Lima Hari di Pasar Malam.


Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku melihat pasar malam dari kejauhan. Dua tahun lalu? Atau justru ketika remaja dulu? Masih pentingkah mengingat kapan terakhir melihat pasar malam? Dan pertanyaan paling penting, masih pentingkah mengingat bagaimana kau menebak isi kepala seseorang?

Hari Pertama

“Datang ke tanah lapang. Ada pasar malam disana”, kamu kirim pesan.

“Tanah lapang mana. Dekat tempatmu?”. Aku tunggu balasanmu agak lama. Tidak kau balas. Aku bingung, tanah lapang ada banyak.

Sepanjang aku ingat –karena memang tak menarik diingat–  tanah kosong di sebelah barat penjara sana tidak pernah menarik. Di Bali, tanah kosong seperti itu banyak sekali. Generik. Biasanya tanah kosong yang tadinya berupa sawah, diurug pemiliknya dan akan dijual kembali nanti. Ini Bali, walaupun dekat penjara, tanah kosong akan tetap dihargai mahal dan tetap dicari.

Di Bali, sapi-sapi berwarna coklat dan babi-babi, ya benar babi, kadang akan mampir di tanah kosong. Kalau kau lewat tanah semacam itu siang hari, paling kau cuma melihat sapi dan babi makan rumput atau tidur berteduh dari terik matahari di bawah pohon yang cuma tumbuh satu atau dua. Maklum, tanah hasil urugan biasanya gersang dan tandus.

Kalau malam, tanah lapang sama saja tidak menarik. Paling cuma jadi rumah anjing buduk yang banyak di seluruh Bali. Ya sesekali kalau di dekat tanah lapang ada café dangdut, seperti dekat kosku, banci-banci mampir dan mangkal cari pelanggan disana. Apa yang menarik dari tanah lapang seperti itu?

“Tanah lapang mana yang ada pasar malam?”, pesanku belum juga kau balas. Aku juga malas mencari. Malam itu, aku pilih tidur di kosan.

Hari Kedua

Layar handphoneku berkedip: “New Message from C. Tia Vitro”

“Datang ke tanah lapang. Ada pasar malam disana”, kamu kirim pesan yang sama.

“Tanah lapang mana? Kemarin aku tanya kamu diam saja”

“Oh, aku tidak jawab?”

“Iya, kamu tidak jawab. Mana bisa tahu tanah lapang mana yang ada pasar malam”

Kali ini kamu beri alamat. Tanah lapang yang cukup jauh, malas sebenarnya tapi karena aku penasaran aku berangkat.

Sampai di lapangan, tidak ada pasar malam. Cuma ada kamu di tengah lapangan.

Kamu melambaikan tangan, “Sini! Ke tengah lapangan sini!”

Aku bingung, “Mana pasar malam?”. Sambil berjalan menuju tengah lapangan aku celangak-celinguk mencari tanda-tanda keramaian pasar malam.

“Sepi. Cuma ada tanah lapang”, protesku.

“Tunggu saja”, Kamu tersenyum. “Siap?”

“Siap apa? Pasar malam? Tentu siap. Aku datang karena itu”

Kamu masih tersenyum. Lalu kedua tanganmu kau letakan di kepalamu. Aku tidak tahu kenapa kamu lakukan itu. “Kamu siap?”, kamu mengulang pertanyaan sambil tersenyum. Aku masih bingung apa yang akan kamu lakukan dengan tangan di kepalamu.

Lalu tiba-tiba kau buka tempurung kepalamu. Kepalamu terbelah menjadi dua! Cahaya cerlang melesat keluar dari dalam. Terang seketika membuat mataku jadi buta sementara. Refleks tanganku kuangkat menutup mata. Mencoba mengurangi cerlang yang membutakan. Setelah terbiasa, aku buka mataku.

Berlompatan dari kepalamu satu per satu: carrousel, pohon-pohon, tenda sirkus, bangku taman, badut-badut, balon warna-warni, gulali, ferris wheelcotton candy, popcorn, bebek karet, bahkan pedagang bolang-baling cakwe dan roti goreng. Satu persatu berloncatan dari dalam tempurung kepalamu yang terbelah dua.

Setelah semuanya selesai berloncatan dari isi kepalamu, aku lihat satu pasar malam tiba-tiba beridiri penuh di lapangan. Carrousel ada di tengah lurus dari pintu masuk, bangku taman ada di sebelah kanan, di pojok kiri ada ferris wheel, pedagang gulali dan permen kapas bertebaran di seluruh penjuru taman. Dan lihat! Ada anak kecil yang tertawa bahagia dibelikan satu set balon warna-warni.

Ketika sibuk memperhatikan detil kecil pasar malam itu aku tidak sadar bahwa kamu sudah tidak ada di tempat semula aku melihatmu.

Kemana dia?

Menghilang melebur bersama pasar malam yang barusan keluar dari kepalanya?

Atau bersembunyi di suatu tempat, melihatku?

Aku melihat dengan jelas sebuah gerbang melengkung dengan tulisan “Pintu Masuk” tertulis besar-besar di atasnya. Aku berjalan mendekat ke arah pintu masuk. Di sana semuanya lengkap, ada loket, ada pengeras suara, ada pula petugas yang memakai seragam, tersenyum. Selalu tersenyum. Mungkin memang sudah instruksinya untuk selalu tersenyum.

“Malam”, sapaku.

“Bisa saya bantu?”

“Iya, saya ingin masuk ke pasar malam ini boleh?”

“Silahkan, punya tiket untuk masuk?”

“Tidak, saya tidak punya tiket untuk masuk. Aku kira ini bukan pasar malam sungguhan”

“Dengan segala keyakinan, kami bisa katakan kami pasar malam sungguhan”

“Tapi aku lihat sendiri, kalian semua berloncatan dari isi kepala Tia. Yang tadi berada disana”, aku tunjuk satu titik di lapangan di mana kamu berdiri sebelumnya. “Tapi dia tiba-tiba hilang entah kemana”.

Petugas tiket masuk tersenyum, “Benar kami berloncatan dari isi kepala Nona Tia. Tapi bukan berarti kami tidak nyata. Kami imajinasi tapi kami ada. Buktinya saya bicara dengan anda sekarang”

“Baik, tapi boleh saya masuk?”

“Punya tiket masuk?”

“Bisa saya beli saja tiket masuk?”

“Anda lihat ada harga tiket di loket ini?”, Kata petugas itu menunjuk loket tiket masuk.

Tidak ada harga tiket terpampang disana.”Tidak”, jawabku.

“Berarti kami tidak jual tiket”

“Lalu bagaimana saya bisa masuk?”

“Anda harus punya tiket”, dia mengulang jawab yang sama. Tegas

“Baik kalau begitu bisa tolong beritahu saya dimana Nona anda? Saya mau tanya apa dia punya tiket untuk saya”

“Maaf, saya tidak tahu”

“Tapi bukan kah anda isi kepala Nona?”

“Iya , kami isi kepala dia tapi kami tidak tahu dimana dia. Tetapi dia selalu tahu dimana kami”

Aku mengambil nafas panjang. Sepertinya masalah ini tidak akan terpecahkan begitu saja.

“Baik, apa pasar malam ini besok masih ada disini?”

“Kami tidak tahu. Semua tergantung Nona. Kami bisa tutup, bisa pindah, bisa buka, kami bisa tambah pertunjukan, kadang hari ini ferris wheel hilang, kadang besok muncul lagi. Hari ini tenda sirkus badut penuh dengan pengunjung, keesokan hari sudah diganti dengan rumah hantu”

Sepertinya pasar malam ini memang sangat tergantung dari isi kepala Nona penciptanya. Isi pasar malam sekarang bisa sangat berbeda dengan isi kemarin. “Baik, besok saya kembali kesini. Siapa tahu Nona kalian menitipkan tiket untukku. Selamat malam”

“Malam”

Hari Ketiga

Besoknya aku datang lagi ke lapangan. Pasar malam masih ada. Telpon genggam mu belum juga dapat dihubungi.

Aku hampiri penjaga tiket.

“Malam, ah anda datang lagi”

“Nona kalian menitipkan tiket untuk ku?”

“Oh, anda masih belum punya tiket”

“Belum”

“Sayang, Nona kami tidak menitipkan apa-apa ke kami”

“Katakan padaku, apa tugasmu sebenarnya. Kamu penjaga pintu masuk bukan?”

“Benar”

“Apa tugasmu?”

“Sudah jelas tuan, tugasku mengizinkan orang masuk atau tidak.”

“Jadi kamu melihat macam-macam orang yang masuk ke pasar malam ini?”

“Benar”

“Ceritakan, orang-orang seperti apa yang datang masuk ke pasar malam?”. Jika aku tidak bisa masuk ke pasar malam ini, paling tidak aku tahu orang seperti apa yang berada di dalamnya.

“Macam-macam tuan. Ada laki-laki muda seperti tuan. Ada anak-anak bersliweran. Ada sesekali orang-orang suci berdatangan. Teman-teman nona juga sering datang mampir bermain”

“Ada yang paling menarik dari orang-orang yang datang kesini?”

Penjaga pintu masuk itu terlihat berpikir, “Sepertinya biasa saja. Memang ada satu dua wajah terkenal mampir disini”

“Selebritis maksudmu?”

“Iya”

“Ah, interesting. Ada yang menarik lagi?”

“Ah, ada satu-dua orang yang masuk dan sepertinya tidak pernah keluar”

“Jadi mereka terperangkap selamanya disana?”

“Sepertinya begitu. Tapi sepertinya mereka sukarela berada disana”

Bahaya juga sepertinya pasar malam ini. Sepertinya jika sudah tersesat, kamu akan susah keluar dari sana. Ada untungnya aku belum punya tiket masuk. Aku jadi punya informasi seperti ini. Kalau aku sudah punya tiket masuk, pasti aku sudah berada di dalam tanpa tahu resiko seperti ini.

 

Hari Keempat

Aku datang lagi malam ini. Pasar malam mu masih disana, di lapangan yang sama, suara musik bernada ceria sama yang keluar dari speaker sember. Tapi kali ini aku tidak ke gerbang masuk. Di depan pasar malam ada pedagang-pedagang asongan yang mencoba memanfaatkan keramaian untuk ikut kecipratan rejeki. Aku putuskan untuk beli camilan dan kopi. Malam ini aku akan melihat pasar malam dari jauh saja.

Sebenarnya, aku tidak tahu kapan terakhir kali aku melihat pasar malam. Dua tahun lalu? Waktu kuliah dulu? Masih pentingkah mengingat kapan terakhir melihat pasar malam? Dan pertanyaan paling penting, masih pentingkah mengingat bagaimana kau menebak isi kepala seseorang?

Ada bangku taman di luar pasar malam. Pedagang-pedagang berkerumunan di dekat pintu masuk. Bangku ini terletak agak jauh dari sana. Pas, tidak terlalu ramai. Aku duduk di bangkut itu.

Kopi aku letakkan di sebelah kanan dekat dengan paha. Kaki kiriku kusilangkan ke kaki kanan. Menikmati sesuatu memang lebih enak ditemani secangkir kopi. Mataku kupicingkan, cahaya dari pasar malam dari luar sini masih terlalu terang rupanya. Lihat, sekarang aku di sini berusaha melihat seperti apa pasar malam kalau di lihat dari kejauhan. Sebuah perihal kadang terlihat lebih jelas jika kita memberi jarak dan ruang pandang yang cukup.

Dari sini, bangku sini, aku bisa melihat bentuk pasar malam secara keseluruhan. Aku sebenarnya masih terheran-heran, bagaimana mungkin dari otak kepalamu bisa keluar pasar malam seramai ini? Kalau benar ini adalah isi kepalamu, maka banyak hal yang tidak pernah kamu bicarakan. Tapi setiap orang memang tidak akan pernah jujur terhadap pasar malam di kepalanya.

Setiap orang memang punya imajinasi. Satu orang mungkin pandai menyembunyikan, satu lain mungkin pandai mengekspresikan. Tapi dari segala imajinasi yang berkeliaran di otakmu: Kenapa pasar malam? Isi otak mu sungguh gaduh, sesak dengan orang. Aku justru tertarik, dari segala kegaduhan itu, karakter mana di pasar malam mu yang akan kau dengar?

Setiap pasar malam –bukan hanya pasar malam di otak mu– selalu ditingkahi suara musik sember yang dibunyikan keras-keras. Belum lagi teriakan-teriakan pedagang, suara tertawa anak kecil, letusan kembang api, suara berkeriut atraksi yang kurang oli, segala macam. Mungkin saja, ini dugaanku, itu sebabnya kamu selalu butuh sepi — seperti Bali – untuk mendengar mana suara yang akan benar-benar kamu pilih untuk dengar.

Lihat aku, duduk di luar pasar malam, sambil minum kopi, dan menebak-nebak soal isi pasar malam. Mungkin akan terdengar judgmental. Tapi Hey! Aku tidak punya tiket masuk.

Hari Kelima

“Selamat malam tuan, sudah mau masuk hari ini?”, penjaga pintu masuk bertanya ketika melihat aku datang menghampiri pasar malam.

“Oh Nona anda belum juga menitipkan tiket ke kalian?”

“Belum tuan”

“Tenang saja. Aku menyerah untuk masuk ke pasar malam ini lagi. Aku cuma mau titip pesan ke Nona kalian”

“Apa tuan?”

“Tolong sampaikan, kalau undang saya ke pasar malam. Paling tidak beri tahu saya dimana saya bisa dapat tiketnya”

Sejak saat itu aku tidak pernah berkunjung ke pasar malam. Entah karena malas atau takut tidak bisa keluar lagi.

 

Kintamani, Nyepi 2014.

– Lain kali kalo pengen ngobrol, remember not everyone is a mind reader

.

PS: C. Tia Vitro adalah nama rekaan kepanjangan dari Cura Tia Vitro.

Review: The Raid and Silat Philosophy.


The Raid 2: Berandal has become one of the most awaited movie this year. Review and critics all crowned Gareth Evans, the director, to become one of the best action movie director because of this movie alone. Positive review since it’s premiere at Sundance Film Festival are pouring from all corner of the world. Peer review site such as Rotten Tomatoes gives this film 94% rating, IMDB  gives 8,6 score and Metacritic  gives 79.

If you wonder what kind of movie is it, The Raid is a pure action movie with a lot of violence inside it. Blood splatter, throat slitted, knive throwed, etc. Its just not everyone cup of tea. No wonder not many people don’t really look forward to see it. Action movie never become my cup of tea either. But this time is different,  i want to see the Raid 2 really bad. Not because the violence but because they show some of good Silat moves in the movie.

Silat Philosophy

Last week i was assisting a book launch called “Keajaiban Silat”, literal translation to English is “The Magic of Silat”. This book written by a silat practitioner Edwin H. Abdullah. A practitioner of three Silat style, the person who is behind Ensiklopedi Silat Indonesia and a business practitioner.

On this book, Edwin explained that Silat is far from being violence. In the talk show of his book, almost all Silat master anonymously said that Silat is an art and philosophy being into one. The martial art part is just the 30% of it.

Edwin recited one of his dialogue with his master to describe this:

One of his master ask him, “why do you want to learn silat?”

He answered, “to be able to fight”

“wrong”, his master said.

Silat is an expression of life

Intrigued by this dialogue, I deep down further into his book to know what Edwin’s master and Edwin trying to say. I found out that his book contain Silat principle that can be applied to many aspect of life, including business. Edwin have enough credential to talk about this. Having graduate from MIT Business School and Harvard, he said that when Peter Shenge teach about management principle he find a lot of the principle can be found in Silat principle. Thus after completing his studies, he pursue this topic (Silat principle) furthermore.

So yeah, after watching the raid and reading the book i think i might want to start to study Silat. To know the principle, not just for fighting purpose.

My top 7 coffee shop in Jakarta


Having years as coffee aficionados and working at wine industry, i develop somewhat of taste of finer things when it comes to drinks. Therefore i encourage myself to write this 7 coffee spot in Jakarta that i personally tasted it myself. Enjoy!

  1. Jakarta Coffee House

Why:

  • Innovative and peculiar taste. Ever wonder how it might be when the smelliest fruit in the world, durian, mixed into your coffee? Come to JCH. I pay them visit for a few years and they always have something new come up now and then. A good sign of innovation.
  • They like to roast or try new things with their customer. The first time i went there several years ago they were roasting their coffee, and the last time i went there they were involving customer to experiment with latte art. Now that is what i a complete customer experience….
  • Of course they pay detail attention to their coffee.

[Taken form Jakarta Coffee House Website}

[Taken form Jakarta Coffee House Website}

Location: Cipete Raya.

Twitter: @Jkt_Coffeehouse

Website: jakartacoffeehouse.biz

2. 115 (one fifteenth) Coffee

Why:

  • Their barista, Dody Samsura, placed 20-ish on 2013 World Barista Championship in Australia.
  • Their coffee is one of the most beautiful thing that i ever tasted in Jakarta. My first visit i spent 300k rups by myself just to try everything because their coffee impress me much.
  • Their ambiance is good. Not in the mall, which if you want to talk more intimate with your friends this is important. It feels like those Melbourne-ish coffee shops.
The treat their coffee like wine

They treat their coffee like wine

Location: Jalan Gandaria I/63

Twitter: @115coffee

Website: 1-15coffee.com

3. Tak Kie Coffee

This is more like indulging the nostalgia senses rather than indulging your taste bud. Tak Kie has been around since 1927. With the old architecture, with Chinese indoor decorating and with their ice coffee that adapted from Portuguese style coffee-ice this place really throw you back in to time capsule in the middle of the bustling-hustling Jakarta.

The Portuguese style ice-coffee influence can be traced when the Portuguese mark their presence in Malaka, Malaysia. Their coffee making style spread in the vicinity region. Including in the Sumatra region in Indonesia.

Location: Petak Sembilan, Glodok, Jakarta.

Open: Breakfast-4 PM.

4. Anomali – Senopati/Setiabudi/Kemang.

They are the first that introduce the art of good local coffee here in Jakarta and Indonesia. Although other new establishment raise the bar, they still worth to mention since their coffee is still superb.

I like the ambiance at Senopati although i visit their Setiabudi branch a lot since it is close to my friends office.

Coffee character

Coffee character

Location:

Jakarta: Senopati/Setiabudi/Kemang.

Bali: Seminyak/Ubud.

Twitter: @anomalicoffee

Website: anomalicoffee.com

5. Pandava Coffee

I don’t really like shakes and ice latte but this Pandava still worth to try to.

Location: Epicentrum Walk at Epicentrum Mall. Jl. Rasuna Epicentrum, GF W119

Twitter: @PandavaCoffee

Facebook: facebook.com/PandavaCoffee

6. Tanamera Coffee Roastery

Worth the mention for the ambiance also for the good Coffee.

Location: Thamrin City Office Park AA 07

Twitter: @Tanameracoffee

Website: tanameracoffee.com

7. TWG

This is tea establishment i am aware of that, thank you. But it is really amazing. Boasting around 250 tea selection on their menu. It is a feast to the taste bud. Familiar with the wine industry myself, this establishment is really a feast to the taste bud. Never thought tea would be so diverse and amazing.

TWG is definitely amazing compared to Starbucks that located several lot away from this establishment. The first time i pay them a visit is when i was visiting Singapore and upon hearing that they open their branch in Indonesia, this is definitely a place to go to. Open a branch in Bali then this tea definitely set to dominate the upper tea market in Indonesia

taken from twg site

taken from twg site

Location: Plaza Senayan

Open: Mall working hour.

Website: twgtea.com

The least place that i’d come to:

UNION AT PLAZA SENAYAN

Why? The waiters are racist as hell. They think Indonesian and Bahasa Indonesia speaking people is in the least customer that they should serve.  Been there twice and neither visit is giving me positive vibe. If you want to find similar elegant place but with better service in the vicinity, go to Mulia Hotel instead.

Or just go to other good places scattered around Plaza Senayan.

Dari Bali ke Jakarta: Za Za Zu, Deja vu dan Jamais Vu


Saya sedang belajar Bahasa Perancis. Setidaknya saya berusaha memulai belajar bahasa itu. Entah kenapa bahasa yang tadinya tidak saya suka akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk dilafalkan mulut ini. Kualat mungkin, sesuatu yang kamu benci akhirnya menemukan jalannya sendiri di hidupmu.

Ketika belajar bahasa ini secara tidak sengaja saya menemukan satu kata yang menarik. Kata ini adalah Za Za Zu.

Za Za Zu diambil dari sebuah kata Perancis “Je Ne Sais Quoi”, yang artinya saya tidak tahu. Ya, terjemahannya adalah “saya tidak tahu”. Ini digunakan misal ketika seseorang ditanya, “apa yang kamu suka dari dia”. “Je Ne Sais Quoi”, saya tidak tahu. Dia punya sesuatu yang membuat saya tertarik tapi saya tidak tahu itu apa. Mojo? Chemistry? Kharisma? Sungguh, saya tidak tahu. Jangan ajukan saya pertanyaan sesulit itu.

Pertanyaan ini juga terlontar ketika seorang teman yang juga barusan pindah dari Bali bertanya hal yang serupa. Hampir retoris dan klise dia bertanya, “kenapa kita kangen Bali?”. Pertanyaan yang sangat retoris, mengingat dia juga pernah tinggal disana. Ingin rasanya saya bilang, “Lah terus lu ngapain juga kangen Bali?”

Jujur sebenarnya dulu saya mengalami momen Za Za Zu terhadap Bali jauh sebelum pindah ke Bali. Tapi karena malas menjelaskan soal konsep Za Za Zu dan makan bebek di piring sepertinya lebih penting, pertanyaan teman saya ini ga saya jawab. Bangsat, kenapa ga ngobrol topik lain selain Bali ketika makan di Jakarta sih? Macet kek, cari duit apaan kek, liburan besok kita ngapain kek. Ya, topik tipikal Jakartans seumuran kami. Maksud saya karena kami sudah di Jakarta, ngobrolin kehidupan kami di Bali rasanya kayak ngobrolin surga. Jauh vroh.

Tapi jika ditanya lagi kenapa saya suka Bali. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya suka Bali. Kalau dibilang alamnya, banyak bagian lain Indonesia juga punya alam yang tidak kalah bagus. Kalau budayanya, banyak budaya di bagian lain Indonesia juga tak kalah menawan. Ah mungkin teman-temannya? Tapi teman-teman yang sama pindah juga ke Jakarta. Lalu apa yang membuat Bali menarik?

Za Za Zu, Je ne sais quoi. Saya tidak tahu. Jangan ajukan saya pertanyaan sesulit itu.

Déjà vu

Déjà vu, (/ˌdeɪʒɑː ˈvuː/) from French, literally “already seen”, is the phenomenon of having the strong sensation that an event or experience currently being experienced has been experienced in the past, whether it has actually happened or not

Tinggal beberapa tahun di Jakarta, hal semacam déjà vu ini sungguh biasa. Bangun 5.30, mandi, makan, lalu berangkat dengan target sampai kantor jam 8.00. Pulang kantor ketemuan sama pacar, kalau lagi jomblo ya nyari coffee shop sama temen. Belajar hidup dan bekerja di Jakarta itu persis memenuhi takdir Déjà vu yang sempurna. Looping yang terus-menerus.

Tapi hidup tak secengeng itu. Kalau tak suka ya ubah! Kalau tidak berkenan ya lawan! Karena itu ketika pindah ke Bali, déjà vu sistematik benar-benar sangat saya hindari. Saya tidak ingin lagi hidup dengan “sepertinya pernah”. Hidup seperti itu cukup di Jakarta saja! Di Bali jangan. Alhasil saya selalu mencari yang baru. Dinamis. Bergerak. Bertemu orang baru, berpisah lagi. Berdansa dengan orang baru, berpisah lagi. Bernyanyi lagi di little bird sanur, lalu pisah lagi. Setiap hari adalah petualangan baru.

Konsekuensi pengingkaran hebat terhadap  déjà vu sistematik ini adalah saya menghindari sekali tempat-tempat umum para turis. Menghindari total nongkrong siang-siang di Pantai Kuta, dugem di Sky Garden, atau makan di makan di tempat super femes kayak Potato Head. Hal-hal seperti itu saya sebut dengan hal-hal yang klise. Saya hindari semua. Apa bedanya saya pindah dari Jakarta ke Bali kalau cuma hidup dengan cara klise yang sama?

Kecuali kalau terpaksa. Ada keluarga atau teman yang datang ya mau bagaimana lagi?

Lalu hari terakhir itu datang juga.

Jamais Vu

Jamais vu (/ˈʒɑːmeɪ ˈvuː/; from French, meaning “never seen”) is the phenomenon of experiencing a situation that one recognizes in some fashion, but that nonetheless seems very unfamiliar.

Malam terakhir di Bali akhirnya saya putuskan untuk melakukan hal yang biasa-biasa saja. Hal yang klise. Lugu, seorang teman datang membawa kopi dan menyeduhkan kopi terakhir. Vifick, teman fotografer juga datang. Ya sederhana. Di kamar yang sudah tidak ada perabotan itu kami akhirnya ngopi bareng (afu, kangen ngopi sama kalian cuk!)

Lalu jam makan malam datang. Last supper, mungkin yesus waktu perjamuan makan terakhir tidak tahu bahwa dia akan disalib sebentar lagi. Tapi di last supper saya, saya tahu saya setipis rambut hampir disalib Nath karena telat datang satu jam!

“Mentang-mentang ini malam terakhir, kamu boleh datang telat sejam gitu”, kalimat sambutan yang manis khas Nath. Untung ada Prissa, ya jadi tameng lah cecunguk satu itu.

Lalu pertanyaan Prissa datang, “jadi kamu mau ngapain malam terakhir? Just say it

Setelah berfikir agak panjang baru saya jawab, “saya mau melakukan hal-hal paling klise yang sudah saya hindari selama ini di Bali”. Ke Kuta!

Malam terakhir di Bali justru saya habiskan dengan cara yang sangat sederhana, sangat rutin, sangat sehari-hari, sebuah déjà vu. Dari ketika dua orang kawan, Lugu dan Vifick, datang untuk membuat secangkir kopi. Sampai bagaimana Prissa dan Nathalie mentoleransi keinginan cetek pergi ke Kuta. Tapi lucunya déjà vu kali ini tidak terasa membosankan. Terasa baru.

***

Jamais Vu”, kata Lea sambil nyolong singkong sambel roa di piring saya. Malam ini Lea mampir ke Jakarta, saya ajak makan di Sabang sebelum dia pulang ke Eropa selamanya.

Excuse me?”, kugeser sedikit piringku ke arahnya. Lahap betul gadis Swiss ini makan singkong.

“Ya, Jamais Vu”, Jawabnya sambil masih nyolong singkong sambel roa di piringku. “Ingat ketika aku di Kamboja dan kamu bilang: ga usah norak lihat Kamboja, di mana aja toh sama saja”.

“Iya, aku ingat tapi apa hubungannya dengan ceritaku?”

Jamais Vu, kebalikan dari déjà vu. Kamu berada dalam situasi yang sama tapi terasa tidak sama. Terasa tidak familiar. Kamu menghabiskan waktu terakhirmu di Bali dengan cara yang klise. Tapi ketika melakukan itu justru semuanya terasa baru. Itu tergantung otakmu berfikir. Tergantung atittude-mu. Baru atau tidak. Menarik atau tidak. Hidup mu, itu atittude-mu.

“Maksud lu, atittude gua selama ini salah?”

Lea tidak menjawab segera. Tersenyum. Kali ini sambil nyolong Kopi Talua-ku, juga sambil menyeret singkong sambel roa lebih dekat ke arahnya dia menjawab:

“Kamu sekarang di Jakarta. Jamais Vu?”

***

So Jakarta, Jamais Vu?

*ditulis sambil menikmati kopi di Jakarta Coffee House

This Too Shall Pass – Untuk Kelud.


Seorang teman baru saja menuliskan status di facebooknya mengunngkapkan simpatinya terhadap keadaan bencana yang dialami bangsa ini akhir-akhir ini:

This too shall pass - Pito

This, too, shall pass. Begitu kata Pito.

Saya ingat, dulu ada seseorang yang akan mengirimkan kalimat ini ketika kami dalam keadaaan sulit. This too shall pass, semua ini akan berlalu. Sebuah kalimat yang soothing, candu rasanya mendengar kalimat seperti itu. Mengingatkan semua akan baik-baik saja.

Terdorong rasa penasaran , saya akhirnya mencari tahu bahwa “this too shall pass”  ternyata adalah sebuah petikan dari ayat di Injil tepatnya di 2 Corinthians 4: 17-18. Saya baru tahu di kemudian hari karena saya adalah Muslim jadi saya tidak tahu isi injil, dan yang mengirimkan kutipan tersebut ke saya adalah seorang Christian. Kira-kira bunyi ayat yang saya ambil dari terjemahan versi New Living Translation adalah sebagai berikut:

“For our present troubles are small and won’t last very long.  Yet they produce for us a glory that vastly outweighs them and will last forever.  So we don’t look at the troubles we can see now; rather, we fix our gaze on things that cannot be seen.  For the things we see now will soon be gone, but the things we cannot see will last forever.”

Untuk kesulitan masa kini kita, (sebenarnya) adalah kesulitan kecil dan tidak akan bertahan lama. Supaya kita tidak fokus terhadap masalah sekarang; tapi kita arahkan pandangan ke hal-hal yang tidak bisa kita lihat (sekarang).

Perhatikan dalam kalimat di atas tidak ada kalimat langsung “this too shall pass”. Rupanya frasa this too shall pass adalah rangkuman dari ayat tersebut dan sudah sangat populer dimana-mana.

Kalimat ini sebenarnya bukan monopoli para Christian ataupun Catholic, kalimat ini juga muncul dalam literatur lain selain injil. Penyair dari Persia, Sanai dan Attar[1] juga menuliskan tentang hal ini. Attar menulis sebuah cerita khayalan fabel dimana seorang raja yang sangat berkuasa mengeluarkan perintah untuk membuat sebuah cincin. Titah raja tersebut adalah pembuatan sebuah cincin yang bisa membuatnya gembira ketika bersedih. Para bijak akhirnya menuliskan satu kalimat yang diukir di sisi cincin, This Too Shall Pass.

Tidak berhenti di situ, menurut Avi Solomon dalam bukunya This Too Shall Pass: Tracing an Ancient Jewish Folktale, dalam folklore Yahudi sering kali disebut bahwa Raja Sulaiman (Solomon) membawa sebuah cincin yang bertuliskan Bahasa Hebrew “Gam Zeh Yaavor” atau dalam Bahasa Inggris menjadi “This Too Shall Pass”. Menurut Avi, inskripsi ini bertujuan untuk membuat Raja Sulaiman untuk tetap merasa humble. Bahwa semua kekuasaan dan kekayaannya tidak abadi. This too shall pass. Menarik melihat bahwa kalimat yang sama di Injil bertujuan untuk memberi harapan tapi dalam folklore Yahudi bertujuan untuk membuat tetap humble.

***

Ketika mendengar Gunung Kelud meletus, saya teringat obrolan dengan Victoria di 115 Coffee. Waktu itu Tori, panggilannya, dengan sambil lalu melontarkan akan adanya bencana yang akan segera terjadi. Entah kebetulan atau tidak, karena saya tanyakan lagi semalam dia tidak ingat pernah ngomong seperti itu. Dan dalam obrolan itu terselip lontaran soal bahwa bencana atau rejeki itu bukan milik agama atau golongan tertentu.

Ini menjadi relevan ketika bencana benar-benar datang menerpa dan ada orang dengan bodohnya mengaitkan bencana ini dengan Valentine. Dan ketika Pito menulis dalam statusnya bahwa This Too Shall Pass -sebuah frasa yang dikenal dalam 3 agama samawi- menjadi frasa yang mengingatkan bahwa bencana ini bisa terjadi oleh siapa saja.

Kalau sebelumnya saya hanya menghayati this too shall pass adalah kalimat melankoli yang biasa disitir sepasang kekasih. Maka sekarang saya cuma ingin siapa pun kamu, dalam keadaan tertekan semoga ucapan this too shall pass menjadi penyemangat. Dan kami adalah tangan yang siap membantu.

This Too Shall Pass.


[1] A Keyes, Ralph (2006). The quote Verifier: Who Said What, Where, and When. Macmillan. ISBN 0-312-34004-4. Retrieved March 3, 2010. Link ada di: http://books.google.co.id/books?id=d6JZryGvfxYC&lpg=PP1&client=firefox-a&pg=PP1#v=onepage&q&f=false

Buku Avi Solomon, This Too Shall Pass bisa di beli di Amazon di: http://www.amazon.com/dp/B005S5LDQM