Waisyak 2012: Demi sebuah alasan rites de passage

“Jadi mereka bakal datang kapan?”, tanya perempuan ini. Saya menengok ke belakang. Dia basah kuyup.  Saya terkejut karena dia memakai, yang seharusnya, jaket anti air. Rupanya hujan terlalu hebat untuk dilawan dengan selembar kain tipis.

Muka nya cemberut. Wajahnya ditekuk. Ah! Saya tidak tega melihat wajah yang sesiangan tadi tersenyum manis jadi seperti ini.  “Sebentar, gw coba telpon lagi”, mencoba menenangkan cemberutnya.  Magelang hujan deras. Besok pukul 4 pagi harus sudah berangkat. Dan malam ini, kami masih ditengah hujan menunggu kejelasan.

***

Rites de passage, ritus peralihan, adalah even yang menandai perjalanan hidup manusia dari satu fase ke fase lainya. Rites de passage sering dipandang penting dalam kebudayaan-kebudayaan dunia dan juga dalam agama.

Di Jawa, kami mengenal tradisi ketika bayi dalam kandungan berusia 7 bulan maka akan diadakan upacara mitoni (mitu = ke-pitu = ketujuh). Setelah bayi tersebut lahir, pada usianya yang ke tujuh hari, dalam tradisi Jawa-Islam dia harus dibuatkan upacara kekahan yang arti asli dari bahasa arab aqiqah adalah memutus atau melubangi. Di potonglah rambutnya, disembelihkan kambing baginya, dirayakanlah bayi itu dalam usianya ketujuh hari. Seperti itulah rites de passage

Mungkin terdengar aneh. Jika dalam kondisi tingkat spiritualitas yang rendah, saya terkadang akan memilih datang ke tempat dan event dimana energi disana terasa besar. Untuk melihat, menyerap energi dan pada akhirnya berharap menemukan diri-sendiri dengan belajar dari umat lain. Berharap setelah semua itu berjalan, saya akan berjalan ke fase lain.

Tanpa sepengetahuan keluarga, ketika kuliah dulu saya pernah diam-diam berangkat ke Bali. Hanya untuk menyusuri pura demi pura. Saya bertanya ke kanan-kiri, dimana saya bisa belajar filosofi hidup menurut Hindu. Saya mengikuti proses sembahyang nyepi di pura. Mengurapi diri saya dengan asap dupa. Hanya untuk tersadar, bahwa setiap agama membutuhkan ritual-medium untuk kebutuhan transedental. Seperti mengurapi diri dengan asap dupa seperti itu pula mengurapi air dalam wudlu.

Di lebuh jalan pasir dan berdebu di Vietnam dan perkampungan Thailand, saya menemukan biksu yang setiap pagi buta bangun untuk bermeditasi tidak berbeda dengan sholat subuh yang sering saya lewatkan itu. Seperti orang yang jauh berpanas-panas di Mekkah untuk menunaikan hajji. Seperti umat yang meratap di tembok ratapan di Jerusalem. Mereka melakukan semua itu untuk sebuah rites de passage. Sebuah ritus dimana pelakunya berharap mereka dibawa transendental ke titik selanjutnya.

Waisyak kali ini saya menaruh harapan yang serupa. Saya sedang dalam fase hidup yang tidak menentu. Berharap dengan menjalani ritus, saya kembali menemukan diri-sendiri.

***

4 tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya diajak untuk datang ke vihara di dekat candi mendut pada waktu malam hari. Disana sedang berlangsung sembahyang, suasananya syahdu. Semburat cahaya kuning menerangi seluruh pojok vihara. Di depan pintu masuk, ada semacam kolam. Di tengah-tengah kolam ada bunga bakung. Cantik diterangi cahaya kuning dari lampu. Diiringi mantra-mantra yang dilantunkan, ingatan saya kembali ke sebuah artikel yang mengatakan bahwa Borobudur dibangun meniru bunga bakung ditengah danau.

Pada awalnya dari sejak tahun 1931, WOJ Nieuwenkamp seroang seniman cum arsitek dari negeri walanda yang melemparkan keliaran ini: Borobudur berbentuk bunga padma yang seharusnya hidup di tengah-tengah kolam. Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) adalah buku yang ia tulis dalam menyalurkan ide liar ini. Menurut dia, Candi Borobudur semula dibangun di tengah telaga, menjadi perlambang mekarnya bunga padma yang mengapung di tengah kolam. Kolam yang sangat besar.

Helmy Murwanto adalah ahli geologi asli Muntilan, Yogyakarta. Beberapa tahun terakhir, sungai, lembah, dan perbukitan di sekitar Candi Borobudur jadi laboratoriumnya. Helmy menemukan data-data geologis yang membuktikan, kawasan di sekitar candi Borobudur memang pernah terdapat danau. “Jika direkonstruksi danau purba Borobudur membentuk elips,” ujar Helmy. “Danau itu mencakup wilayah dengan batas selatan di Perbukitan Menoreh hingga 10 km ke utara, sementara ke timur membujur sepanjang 7-8 kilometer dari Jembatan Wangon hingga Klipoh, Magelang, Jawa Tengah”.

Saya termasuk yang setuju terhadap pendapat Borobudur dikelilingi danau – atau setidaknya kolam. Dalam perjalanan saya ke Angkor Wat tahun 2008 silam, saya terkejut atas sistem perairan kompleks Angkor yang begitu rumit. Jika anda google angkor wat, pasti anda akan melihat Candi yang dikelilingi danau buatan. Dan untuk catatan saja, Suryawarman, penguasa khmer waktu itu, masih ada kaitanya dengan Jayawarman dari Majapahit.

Dimulai dari artikel dan pengamatan pribadi itulah timbul ambisi saya untuk naik ke punthuk stumbu. Dari pucuk bukit inilah saya ingin melihat Borobudur dari kejauhan. Membayangkan bagaimana Borobudur yang magis, ditutup kabut di pagi hari, dikelilingi oleh perairan danau yang maha luas. Jika anda sudah naik ke pucuk stumbu dan belum mencoba membayangkan betapa agungnya borobudur dikelilingi air, saya sarankan coba bayangkan dari gambar2 yang sudah ada.

—ambisi saya untuk ke stumbu bukan tanpa dasar bukan?

Ritus pertama saya adalah Stumbu. Sudah tercapai. Apa yang mau saya capai dari ritus stumbu ini? Sederhana: Saya hanya ingin merasakan kekaguman yang sama seperti peziarah abad ke-8 dalam melihat Borobudur dalam bentuk aslinya. Saya yakin, peziarah di masa lampau itu terkesima terhadap pemandangan tersebut dan pada akhirnya mereka menyatakan kekaguman terhadap pencipta alam dan kosmos ini. Kekaguman peziarah itu, dinyatakan dalam bentuk sembahyang dalam Candi Borobudur

Ritus kedua yang saya incar sebenarnya adalah prosesi pradakshina dan lampion di malam harinya. Saya salah perhitungan. Saya salah tujuan.  Dari kilatan-kilatan flash yang memburu prosesi malam hari waisyak, nafsu saya sendiri untuk memotret lampion yang dilepaskan, dari lapar yang melanda karena kehujanan seharian penuh, dari kewajiban menyapa rekan-rekan yang ternyata banyak sekali berdatangan dari sudut Indonesia dan terutama  ada satu perempuan yang terus-menerus harus saya perhatikan.

Dan tahu-tahu, ritus kedua terlewatkan begitu saja…

***

Saya sedikit tidak puas. Kosong. Apakah ritus yang saya tuju itu sudah lengkap saya jalani? Apakah saya sudah bergerak dari titik sebelumnya? Ataukah justru peristiwa semalam membuktikan saya justru mudah terjebak dalam nafsu massa, apakah peristiwa tadi malam membuktikan saya mudah melupakan tujuan awal dan ikut serta dalam eforia eksis melalui kamera?

Tepukan keras di pundak, “Hei! andifa! Jangan serius-serius dong. Kita kan lagi liburan”. Perempuan yang dua malam yang lalu wajahnya tertekuk bersengut kini menyapa dengan senyum. Saya terdiam. Mungkin rites de passage saya kali ini bukan dalam bentuk sembahyang, dalam doa dan atapun mantra. Mungkin rites de passage saya kali ini ada di perempuan ini. Mungkin dia lah yang membuat saya bergerak dari satu titik menuju titik lain, sebagai manusia.

Dalam hati saya bersyukur. Saya (sudah merasa) sedikit berubah.

4 thoughts on “Waisyak 2012: Demi sebuah alasan rites de passage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s