Fiksi itu memang menarik

Ini yang akan kamu lakukan: gelar karpet merah untuk egomu. Kau pakai pakaian baru, agar semua mata tertuju padamu di gelaran karpet merah.

Lenggokmu menarik. Senyum mu terkembang: sumringah. Kau bawa dompet kecil dengan tangan kirimu, handphone kesayanganmu di tangan kanan.

Make-up –ya benar make-up– hal yang jarang kau pakai kau pakai, untuk malam ini sengaja kau pupuhkan dengan detail.

Pelembab bibir yang membuat bibirmu cerah sedikit mengkilap, seperti dioles mentega. Membuat bibirmu menjadi bibir yang sangat diidamkan laki-laki untuk dicium lalu disesap dengan pelan. Lumer di dalam mulut laki-laki yang menginginkanmu.

Akh! Aku sudah mulai lupa, seperti apa rasa bibirmu itu. Karena aku lebih suka mencium mu ketika kau bangun tidur. Itu rasa ciumanmu bagiku. Jika ada yang bertanya apakah kau terlihat cantik di televisi. Jawabanku sudah jelas, kamu terlihat paling cantik setelah bangun tidur.

Aku sudah mulai lupa, seperti apa ciuman bibirmu. Karena dulu ketika aku mencium mu, aku merasakan tatapan mata, bukan bibir. Kamu tahu, aku selalu memuja matamu yang berbinar.

Ah, soal mata. Pemulas alis mata! Ini yang membuatku terkejut! Aku ingat kamu tidak pernah membubuhkan kosmetik sampai sedetail alis mata. Biasanya cuma pelembab kulit dan sedikit pemulas bibir. “Ini kejutan kecil”, pikirku. Tapi yah, manusia bisa berubah.

Dari layar kotak televisi, aku lihat lenggokmu di gelaran karpet merah. Dulu, aku sangat kenal kau. Di layar televisi yg kulihat ini, mungkin kamu sedang menikmati ego sebagai pemain peran. “Manusia bisa berubah”, begitu kataku sekali lagi.

Selalu, dari dulu selalu kuberikan nasehat yang sama ke semua orang. Jika kamu menikmati bermain peran, puaskanlah. Seharusnya tidak ada laki-laki yang berhak menghalangi perempuanya menikmati hal yang disukainya. Begitu pun sebaliknya. Bukankah dalam hubungan, manusia yang telibat didalamnya terdorong untuk menjadi lebih baik?

Selamat menikmati gelaran karpet merah ego. Terkadang kita semua perlu itu. Lalu seperti orang tolol, aku berkata ke kotak televisi, “Jangan berlebihan”. Seolah televisi yang ku ajak omong bisa sampaikan pesanku ini.

Lain kali jika kulihat di televisi, dari pulau Bali sini, buat aku terpukau dan memujamu sekali lagi.

“Jangan terlalu lama memakai kosmetik. Nanti cepat tua”, kuulang lagi berbicara dengan kotak elektronik. Tapi yah, manusia memang bisa berubah.

Kumatikan televisi, laki-laki ini kembali ke realita. Meninggalkan cerita mimpi dalam  fiksi yang diceritakan lewat televisi.

Denpasar – 16 Januari 2013.

——————————————————————————————————————————-

Menjawab tantangan menulis fiksi dari seorang teman: NYOH!!!

4 thoughts on “Fiksi itu memang menarik

    • Haha sama mas, iseng aja. Kebanyakan nulis angka/fakta di kerja sehari-hari, fungsi blog ya semcam pelarian dari kehidupan sehari-hari hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s