Flores – catatan sebelum perjalanan

Perjalanan fisik adalah perjalanan batin yang paling dalam”, Maria Hartiningsih – wartawan Kompas.

Ritual minggu pagi ketika tinggal di Jakarta saya ingat betul. Televisi menayangkan kartun –dikuasai sepenuhnya oleh keponakan yang berambut kriwil–dan biasanya saya dan kakak akan makan pagi  sambil membaca koran membahas segala sesuatu yang sekiranya menarik . Minggu pagi yang generik. Rutinitas yang menyenangkan.

Ditengah rutinitas santai seperti itulah, sekira 2010-2011 pertama kali saya melihat foto essay di Kompas minggu tentang Wae Rebo dan juga cerita yang menakjubkan tentang arsitektur tradisional rumah mereka. Dan celakanya pula, menurut artikel tersebut, perbandingan antara orang manca dan negeri sendiri yang berkunjung: 400 dibanding 15.  Ini desa (bagi saya saat itu) sungguh misterius. Tiba-tiba ada dorongan kuat untuk melihat sendiri Wae Rebo. Entah berapa kali sudah sering saya ucapkan sejak saat itu: saya ingin bertemu Wae Rebo

Ketika membaca artikel tersebut, saya terhipnotis. Suara keras televisi yang menayangkan kartun meredup. Kakak yang sedang melontarkan sederetan kalimat untuk menjadi bahan obrolan di meja makan tidak saya perhatikan. Pupil mata saya terbuka lebih lebar. Cuping hidung menghirup udara lebih perlahan, terdengar jelas seirama dengan irama degup jantung.  Saya tahu persis gejala fisik seperti ini: Saya Jatuh Cinta.

Jatuh cinta tidak pernah butuh alasan khusus. Seseorang bisa jatuh cinta karena melihat matanya yang berbinar, atau jatuh cinta terhadap cara dia menyibak rambutnya yang khas. Jatuh cinta bisa saja melalui detail-detail kecil yang kita tidak tahu itu apa. “I just love it. Saya tidak tahu kenapa, bagaimana dan kapan saya jatuh cinta”. Tapi saya tahu, saya jatuh cinta terhadap Wae Rebo saat itu.

***

Pernah di Bali sini, ada yang bertanya: apa sebenarnya yang kamu cari (dengan menjadi pejalan?)

Saya tidak pernah tahu persis apa yang mau saya tuju dengan menjadi pejalan. Dalam perjalanan ke tempat yang tidak pernah disinggahi sebelumnya, kita selalu menemukan hal-hal baru.  Dan karena bertemu hal baru, kita terpaksa belajar untuk paham hal-hal yang baru itu. Agar kita bisa berbicara, mendengar, makan bersama, duduk bersama – berinteraksi– dengan hal yang baru itu. Tidak sekedar menjadi alien yang datang dengan perspektif sendiri dan menilai semuanya dengan norma kita.

Saya teringat penggalan cerita dalam the alchemist dari Paulo Coelho. Santiago sang penggembala, karena baru pertama kali mengenal budaya Maroko dapat dengan jeli melihat peluang berharga yang tidak bisa dilihat oleh sang penjual kristal yang sudah bertahun-tahun hidup disana. Dia hanya memodifikasi sedikit cara penjual kristal itu berdagang yaitu dengan cara dibersihkan dan dipajang dipinggir jalan. Baru setelah lama, penjual kristal tersebut dapat diyakinkan untuk menjual teh mint di dalam gelas kristal. Teh mint dalam gelas kristal tersebut yang menjadi daya tarik utama para pejalan padang pasir untuk singgah dan akhirnya membeli gelas-gelas kristal tersebut. Bukti perspektif baru yang tidak dipaksakan sangat berharga.

Pejalan-pejalan  (traveler) yang melintasi jazirah Maroko di dalam cerita tersebut itu banyak diantara mereka adalah peziarah. Mereka sedang menuju berkalan melintasi padang pasir, untuk menuju puncak dari perjalanan batin mereka: bertemu dan merasa dekat dengan tuhan.

Perjalanan fisik adalah perjalanan batin yang paling dalam”, yang diucapkan Maria mungkin merujuk kepada pengalaman fisik para peziarah. Mereka menjadi traveler – pejalan karena ada sesuatu yang dicari dalam batin mereka untuk menuju tuhan. Mereka mencari tenang.

Kalimat yang diucapkan Maria puluhan tahun lalu ke seorang pemuda di Bali itu akhirnya minggu sore kemarin diceritakan mas Dicky Lopulalan, pemuda itu, di depan kami di Kopi Kultur. Lucunya, kalimat itu keluar ketika mas Dicky sedang bercerita tentang sociopreneur di area Ruteng (kabupaten tempat Wae Rebo berada).

Jelas saya tersenyum ketika mas Dicky mengutip kalimat tersebut. Ini seperti pertanda awal perjalanan saya ke Ruteng.

Jadi perempuan, ketika kamu bertanya: apa sebenarnya yang kamu cari dengan menjadi pejalan?

Jika sebelumnya saya menjawab saya tidak tahu apa yang saya tuju dengan menjadi pejalan. Jawaban saya kali ini jelas. Saya sedang menuju impian lama saya. Saya ingin bertemu sebuah tempat serupa perempuan molek bernama Wae Rebo.

Saya tidak menyiapkan itinerary jelas. Tidak menyiapkan sebuah skenario teratur rapi untuk menuju Wae Rebo. Jika saya harus naik angkot, saya akan naik angkot. Jika saya harus naik travel, saya akan naik travel. Jika memang harus menyewa mobil, ya saya akan menyewa mobil. Saya sedang menyiapkan cara sealami mungkin untuk menuju cinta lama. Aku ingin jatuh cinta secara perlahan ketika tiap jengkal kaki perlahan mendekati Wae Rebo. Dan jika benar-benar bertemu nanti, pasti akan nikmat sekali rasanya. Tanpa diatur oleh skenario, tanpa ekspektasi.

Mungkin sepulangnya dari sana, saya akan menuju kamu. Juga tanpa skenario, tanpa ekspektasi. Kita lihat saja.

*untuk Wae Rebo. Cinta lama yang sebentar lagi bertemu.

3 thoughts on “Flores – catatan sebelum perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s