Derajat Beras

Aku baru saja membuang beras.

Ada tikus masuk ke tempat penyimpanan berasku. Walaupun sepertinya tikus itu cuma berjalan-jalan di permukaan beras. Dan cuma mencuri sedikit beras dari permukaan. Aku tidak mau ambil resiko, aku ambil semua beras yang tersisa. Sepuluh kilo lebih mungkin ada.

Mubazir katamu? Hei, siapa tahu. Tikus itu kencing di atas berasku. Lalu menyelusup sampai bawah wadah penyimpanan beras. Kalau kutanak beras yang kena air kencing tikus, siapa yang tanggung? Kamu mau? Masih bilang mubazir katamu?

Aku ambil karung. Kutuangkan semua beras ke dalamnya. Kuseret turun kebawah. Berat. Sepuluh kilo lebih mungkin ada. “Ah, sayang. Mubazir”, katamu masih mengkritik ku dengan pelan.

“Tcih, sudah kubilang. Kalau aku yang sakit keras kena beras air kencing tikus, masih bilang itu mubazir?”

Kubuka pagar teralis tembaga warna merah. Tempat sampah ada di depan rumah. Disamping rumah ada rumah baru yang dibangun. Sebulan lalu disitu masih sawah. Kadang ditanam kangkung. Tapi sawah itu sudah sebulan yang lalu. Maklum, ini Bali. Rumah cepat sekali dibangun walaupun milik siapa entah.

Di samping rumah setengah jadi, masih ada sawah-sawah. Kamu tunjuk kuli-kuli bangunan rumah dan buruh tani, kali ini dengan suara lebih keras kau menghardik ku. “Lihat itu? Mubazir!” Mereka semua melihat ke arahku. Mata para petani itu bertanya-tanya, “Kenapa aku harus buang beras ke tempat sampah?”

Aku ingin menghardik mereka, “Ini berasku, memang kenapa kalau kubuang?”

Tapi niat itu ku urungkan. Aku tidak tega melihat mata mereka yang masih bertanya-tanya kenapa aku membuang beras. Tapi dongkol tetap saja dongkol. Ini kan berasku hak apa mereka protes. Lagipula beras ini sudah kena air kencing.

“Tuan beruntung, beras tuan masih diminati tikus. Padi kami, tikus pun tidak mau makan,”

“Goblok! Bukan malah bagus tidak ada hama yang mau makan padi. Panen kalian banyak. Penghasilan kalian tidak berkurang”

Petani-petani itu saling berpandangan. Menghela napas panjang sambil berkata lirih,  “Tuan, jangankan tikus burung pun tidak sudi lagi hinggap”

Logika ku makin tak karuan. Alasan petani itu bilang saya beruntung makin tidak masuk akal.

“Sebentar, tikus tidak mau makan padi kalian. Burung tidak mau mencuri bulir-bulir padi yang penuh. Penghasilan kalian tidak berkurang. Ini beras-berasku kalau kalian lupa? Sudah dikencingi tikus. Kenapa kalian malah iri? Kenapa kalian bilang saya beruntung?”

“Tuan. Padi kami tumbuhkan dari benih. Benih kami, kami beli di pasar. Pasar kami dipasok oleh distributor. Distributor kami…”

“HOI! Ngapain kalian jelasin ini ke saya? Apa urusan saya?”

“Tuan, padi kami bahkan hama pun tidak mau makan. Kalau binatang pun tidak mau makan tapi kami cuma punya padi ini untuk kami makan. Tuan bisa bayangkan? Kami cuma punya beras yang bahkan tikus pun tidak mau makan!”

Aku tertegun. Beras yang dikencingi tikus tadi tiba-tiba terasa terasa terangkat harkat martabatnya. “Memangnya beras kalian dipasok siapa?”, tanyaku.

“Monsanto”

Bangsat. Aku ambil lagi beras bekas air kencing tikus. Derajat beras kencing tikus ini sekarang lebih tinggi

 

Denpasar – 1 Juni 2013.

One thought on “Derajat Beras

  1. orang bilang Monsanto is the world’s most evil corporation. Tapi gak bener2 tau kenapa sih… So, jelaskan padakuh! jelaskan!!! *troll mode*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s