Wae Rebo, tempat dimana jatuh cinta itu biasa saja

kamu sudah dianggap anak. Anak adalah bagian dari keluarga. Keluarga tidak akan diganggu. Leluhur mengijinkanmu disini”, Rafael tetua desa Wae Rebo mengucapkanya dengan keras.

Tujuh rumah adat di pucuk gunung ini memang dimaksudkan sebagai rumah untuk para leluhur yang mendahului kita semua. Ini rumah berduka. Petrus yang bertugas sebagai pemandu saya menyerahkan uang duka titipan saya ke tetua.

“Saya tinggal di Bali. Saya jatuh cinta dengan Wae Rebo sudah lama. Jatuh cinta cuma melalui foto”, jawabanku menjawab kenapa alasan mengunjungi Wae Rebo.

Rafael tersenyum, Petrus pun tersenyum.

“Mungkin adik sudah jodoh datang ke Wae Rebo hari ini. Bukan kemarin, bukan besok. Adik bilang rencana sebelumnya datang ke Wae Rebo baru besok bukan?”, tanya Petrus.

Saya memang harus menyingkat tinggal saya di Labuan Bajo dan berangkat ke Wae Rebo sehari lebih awal.

“ Nanti malam kami undang adik ke Ve’emparu. Upacara adat ketika ada rumah baru ditempati. Malam inilah upacaranya, bukan kemarin, bukan besok. Adik sudah jodoh”, lanjut Petrus.

Aih! Matik! Maut sekali ucapan ‘sudah jodoh’ dari Petrus ini. Saya yang sudah mengimpikan datang ke Wae Rebo sejak dua tahun lalu, datang disambut ucapan sudah jodoh. Sayang, jodohnya Wae Rebo. Bukan perempuan ayu bermata teduh. Kenapa ga sepaket sih jodohnya? Sepaket jodoh Wae Rebo sama perempuan. Kenapa? Kenapaaaaaaaa…. *drama deh

IMG_7542_-2_-3_-4_-5_tonemapped

***

 Ketika saya dipersilahkan masuk rumah, para penduduk belum datang. Tetapi satu orang sudah duduk di dekat pintu memegang babi hitam kecil. Satu orang lagi, Frans pemilik hajat, duduk di sebelah kanan dekat para tetua yang sudah duduk di paling ujung. Membelakangi pintu menuju dapur.  Tiga ayam berwarna putih, hitam dan coklat. Dipegang oleh dua tetua adat dan satu oleh pemilik hajat Frans. Ayam-ayam itu tenang, tidak berkokok. Di ujung pintu Babi kecil juga tenang.

Ve’emparu jadi acara yang penting bagi penduduk desa kecil ini. Semua kepala keluarga hadir. Sekira 30 Kepala Keluarga saya hitung ada di sana. Masing-masing memakai sarung dan ikat kepala serupa blangkon ikat di Jawa Barat. Semuanya laki-laki. Para ibu berada di bagian belakang rumah, di dapur.  Menyiapkan hidangan untuk upacara ini.

Ve’emparu jelas bukan sekedar urusan mendoakan rumah baru. Seperti saya yang dimintakan izin kepada leluhur agar diterima dan diakui sebagai keluarga, datang ke ve’emparu adalah urusan mendoakan keluarga. Penghuni rumah yang didoakan adalah bagian dari keluarga besar satu desa molek bernama Wae Rebo.

Tetua adat tiba-tiba bersuara keras. Semua percakapan terhenti. Frans, empunya rumah menyerahkan ayam yang dipengangnya ke satu tetua adat di sampingnya. Ditepat

Ditengah-tengah suara doa dan mantra yang dilantunkan saya bertanya berbisik ke Petrus, “Apa yang akan dilakukan tetua?”

Pertanyaan saya ternyata tidak perlu menunggu jawaban terlalu lama. Tetua melagukan sebuah doa. Semua riuhnya percakapan tiba-tiba berhenti. Doa dilantunkan. Iya, benar dilantunkan. Saya seperti sedang mendengar mantra yang dilagukan.

Sambil mengucap mantra, tetua mencabuti bulu ekor ayam yang dipegangnya ke tengah-tengah. Ayam mulai ribut. Frans dengan sigap berdiri, mengambil potongan bulu ayam ke tengah-tengah baki seng yang digambar warna-warni bunga. Ayam yang dipegang tetua tiba-tiba sudah berpindah tangan. Tangan Frans sudah memegang pisau. Leher ayam dipotong. Darah menetes ke baki seng. Semua masih mengikuti lantunan mantra tetua. Di ujung di dekat pintu, babi kecil warna hitam juga dipotong. Darahnya diteteskan keluar.

Setelah hewan kurban ayam dan babi disembelih dan diberikan ke tetua untuk dibaca. Bagian dadanya akan dibelah. Hatinya dibelah. Para tetua berembug melihat hati hewan tersebut untuk mengetahui apakah upacara tersebut diterima oleh para leluhur atau tidak. (hati gw boleh dibaca juga loh bapak tetua). Ve’emparu bisa saja ditolak oleh leluhur. Jika ditolak, upacara serupa harus dilakukan lagi, lagi dan lagi sampai leluhur menerima permohonan doa mereka.

IMG_7460 bbb

Syukurlah, dalam prosesi tersebut upacara Ve’emparu tersebut diterima oleh leluhur. Frans mengumpulkan ekor ayam yang dipersempahkan. Juga kuping kanan babi tadi. Diikatnya dalam satu simpul sederhana. Digantungnya di tengah-tengah rumah. Sebagai pertanda bahwa rumah tersebut sudah diupacarai dan juga sebagai jimat tolak-bala, karena leluhur sudah memberkati.

IMG_7474 b

***

Sebelum berangkat ke Wae Rebo saya coba telisik sejarah desa ini lewat Internet. Ternyata referensi online soal desa ini sedikit sekali. Karena saya tidak punya akses terhadap buku antropologi di Bali sini terpaksa saya berangkat dengan modal sederhana: saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri cinta lama saya ini.

Mumpung berada di tengah-tengah penduduk desa yang sedang berkumpul saya coba korek sedikit sejarah desa ini menurut versi mereka.

Tidak ada yang bisa bercerita persis bagaimana desa ini bermula. Tapi ingatan-ingatan tua yang hadir bersama di upacara ini bercerita bahwa semua sudah ada sekira abad 11-13. Itu menurut mereka. Kehidupan mereka dulu nomaden. Semua memakai cara hidup ladang berpindah. Maka konon, diatas gunung di perkampungan Wae Rebo dulu dipenuhi kerbau dan kuda. Alat transportasi yang penting bagi gaya hidup ladang berpindah mereka.

Gaya hidup ini mulai berhenti sejak tahun 80an. Sejak saat itu pula, populasi kerbau dan kuda mulai terkikis. Sekarang? Cuma di desa Lembor dan desa Dintor ada masih bisa melihat kerbau. Tapi sisa-sisa kebudayaan nomaden tersebut bukan berarti punah sepenuhnya. Coba simak foto atap Mbaru Niang, rumah khas Wae Rebo dibawah ini:

IMG_7331 b

Pembicaraan kami soal sejarah Wae Rebo tiba-tiba harus terputus. Makanan akan segera dihidangkan. Bapak di sebelah saya berbisik bertanya ke saya, “adik bisa makan anjing? Kalau tidak kami akan sediakan gulai ayam untuk adik”. Njrit, mana yang kudu gw pilih? Gw tau persis, ayam bagi mereka cukup mewah. Ketika saya meminta lauk ayam untuk makan sehari-hari pun ada biaya ekstra yang harus saya keluarkan.

Saya sebagai tamu, jika saya memilih ayam tuan rumah pasti akan menyediakan. Bukan ayam yang jadi persembahan tapi pasti dari ayam lain. Beda hal jika saya memilih anjing. Salah satu hal yang diajarkan oleh budaya ladang berpindah adalah mereka harus bisa memaksimalkan segala sumber alam di sekitar mereka. Anjing adalah sumber protein yang banyak tersedia di sekitar mereka.  Semua yang hadir dalam upacara tersebut juga memakan anjing. Ini situasi dimana saya harus tahu diri. Memang tuan rumah memberikan opsi tapi saya tidak mau merepotkan.

***

Setelah selesai mengikuti upacara saya kembali menuju Mbaru Niang (rumah tradisional) untuk tamu. Disini, listrik hanya dihidupkan dari pukul 7.00 sampai pukul 10.00 malam lewat genset. Artinya harus ada bensin yang diangkut ke atas gunung untuk menghidupkan listrik.

Duduk sendirian di lapangan depan Mbaru Niang saya jadi teringat cerita-cerita tentang bagaimana sekitar tahun 95-96 pertama kali Gubernur dan Bupati NTT mendengar soal desa Wae Rebo justru ketika mereka sedang di Belanda. Ada seseorang meneer belanda mengajak mereka berbicara dan memperlihatkan foto arsip hitam putih bangunan Mbaru Niang dan dia bertanya, “kamu tahu dimana rumah ini?”

Gelagapan, pejabat itu langsung berkata, “ya saya tahu”. Padahal mereka tidak tahu dan juga cuma bisa menebak-nebak dimana letak desa yang berada di dalam foto arsip hitam putih itu. Sesampainya di Indonesia, mereka memerintahkan ajudan mereka untuk mencari tahu dimana letak desa tersebut. Sejak itu Wae Rebo mulai mendapat perhatian lagi.

Saya tidak akan menceritakan ulang cerita yang sudah banyak diceritakan soal Mbaru Niang. Anda bisa membacanya disini atau menonton film dari Yoris Antar . Tapi saya akan beri sedikit informasi: Wae Rebo sudah cukup maju. Sekolah sedang dibangun diatas sana. Jalanan aspal sedang dibangun 3 kilometer menuju kesana di sisi Desa Dintor yang akan menyingkat jalan trekking anda dari sekira 3 jam cuma menjadi 2 jam. Penginapan akan di bangun di mulut pintu hutan dekat air terjun kecil. Wae Rebo, seperti destinasi wisata lain yang mulai terkenal sudah mulai tahu bagaimana memanfaatkan wisata dan implikasi sosial yang tidak bisa dielakan.

Sambil melihat sketch yang saya buat sore tadi saya tersenyum sambil melihat bintang. Bisakah kita berkali-kali jatuh cinta terhadap hal yang sama? Walaupun ternyata dia tidak semolek dan tidak sebaik yang dibayangkan? Jatuh cinta itu hal yang biasa saja sebenarnya.

Saya taruh kamera di rumput. Saya jepret Wae Rebo di malam hari. Melihat beberapa hasilnya saya tersenyum: ya, ternyata saya bisa berkali-kali jatuh cinta terhadap hal yang sama.

IMG_7504 bb

———————————————————————————————————————————————————————————–

Menyambut cupping kopi Wae Rebo dan pemutaran dokumenter @badutromantis dan @timestopper_ editan dari @lampurio di @kopikultur. mereka akan menyiapkan kejutan yang berhubungan dengan kopi di Wae Rebo

——————————————————————————————————————————————————————–

IMG_7226

3 thoughts on “Wae Rebo, tempat dimana jatuh cinta itu biasa saja

  1. sy mau ke sini on new year. ada suggestion?
    ini judulnya romantis sekali … dan sy pun sdh jatuh cinta dg foto2 ttg Wae Rebo … berkali2 .. benar2 menakjubkan …

    • Hi,
      wah satu lagi orang yang cuma lewat fotonya udah jatuh cinta sama Wae Rebo🙂

      Asal jangan pas natal, Dijamin angkutan susah dicari. Paling enak berangkat dari Labuan Bajo, pagi-pagi. Kalau bisa jangan pakai bus/angkot, cari travel. Lebih cepat. Bilang saja mau ke wae rebo, nanti diturunkan di tengah jalan.

      Dari situ terpaksa naik angkot ke Desa Dintor. Kalau belum malam, bisa langsung naik. Kalau terlalu malam ada penginapan Bapak Martenus Anggo atau Bapak Blasius. Kalau butuh kontak buat porter/guide/penginepan disana bisa kontak Pak Marten. Nanti saya carikan dulu nomornya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s