Via dolorosa

Para paderi berkata kepadaku
“anak ku cuma lewat via dolorosa, jalan kesengsaraan, peziarahaanmu akan berujung”.
Terimakasih paderiku yang baik, penyambung lidah tuhan yang mulia.
Tapi entah kenapa aku yakin, tidak harus lewat via dolorosa,
atau berjalan menyusuri Santiago de Compostella
 

Tidak semua peziarahan berujung ratapan di Jerusalem
Atau untuk menciumi Hajar Aswad dengan berlinang air mata .
Ada peziarahan yang ditakdirkan untuk mengunjungi cita-cita di kepalamu yang selama ini terkubur kabut makanan enak, film keren, baju yang bagus, pembicaraan remeh-temeh soal tayangan TV kabel semalam.
 

Peziarahan mengenal isi kepalamu
(mungkin lain kali aku berziarah ke kuil tubuhmu)

 
membicarakan pelangi

6 thoughts on “Via dolorosa

  1. Errr…nice! Ujung-ujunge nice. Abot bener nih dereten huruf. Biar bagaimanapun, kemunculannya harus diapresiasi. Aku tahu melahirkannya membutuhkan usaha dan pemikiran yang matang. *ini komentar orang yang bingung bagaimana mencernanya

    Jalanmu memang tidak harus via dolorosa. Dia ada di hatimu, menunggu untuk ditemu.

    • Benernya ada versi panjangnya… ini benernya hasil ngobrol tentang cita-cita dengan seorang perempuan kemarin.

      Ini kayak semacam menerjemahkan momen ngobrol ngalor-ngidul dengan si partner.

  2. wow… secara susunan kata, aku tidak terlalu kritis… ^_^
    tapi aku menangkap filosofi ziarah yang bagus disini..
    yah, ziarah tidak selamanya penutupan akan hal besar…
    ia juga bisa dijadikan awalan atau permulaan untuk hal besar tentang kita dan siapa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s