Rindu untuk pelacurku yang manis.

Tahukah kamu bagaimana meletakan rindu sebagaimana mestinya?

Sejarak pandangan mata?
Dalam mata terpejam dan bibir yg dicium sesudahnya?

Antara hormat dan, sialnya, sedikit takut melukai egoku.
Aku urungkan niat itu.
Matamu masih berkaca bayangan laki-laki yang kau selingkuhi pagi tadi.
Bibirmu masih basah oleh ciumanya.
Putingmu masih bau rokok bekas lumatan membabi-buta ketika kalian masuk kamar hotel tadi siang.

Tidak sayang,
Rinduku akan kuletakan sebagaimana semestinya.
Dalam peziarahan mengunjungi kuburmu nanti.
Ketika kamu mati dalam kesengsaraan ditelantarkan laki-laki itu.
Dan penyakit kelamin menggerogoti tubuhmu perlahan dari dalam.

Ah tapi kenapa pula aku cemburu?
Sudah tugasmu melayani setiap tamu.
Sebenarnya aku datang kesini cuma mau beri tahu:
Besok kesatuanku datang grebek tempat ini.
Komandan sudah beri harga mati.

Kintamani, 28 Juli 2013.

Di tepi gunung Subaya. Di ujung selimutmu.

2 thoughts on “Rindu untuk pelacurku yang manis.

  1. wow….. luar biasa menarik…
    entah karena vulgaritasnya yang menyeberang fiksi…
    ataukah karena pesan yang tak terduga di ujung sajak…
    but it is truly looks honest ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s