Namamu

Namamu dibicarakan dengan bangga di Lauriergracht No 37, Amsterdam.
Setiap yang membicarakanmu terlihat jelas raut senang.

Namamu dicari dari kolong meja sampai atap dunia.
Dari Cordoba sampai ke Jawa.
lalu disiarkan ke seluruh dunia.
Serupa misionaris yang membawa kabar tentang juru selamat,
Serupa lantunan khidmat azan di minaret-minaret,
ataupun segala macam mantra

Lalu tiba-tiba, semua orang merasa memiliki namamu,
Klaim bahwa namamu yg dipunyai mereka lah yang paling hebat

Tapi kamu dan aku tahu,
Namamu tak perlu dibela
Setidaknya tidak dengan pentungan di tangan, dari atas jip beratap terbuka sambil berteriak ‘allahuakbar’!
Atau mengutuk mereka yang berbeda  dari mimbar-mimbar agama apapun

Tapi namamu memang sering dipuja seperti agama,
Namun, namamu akan dibela lewat percakapan-percakapan santai.
Bisikan-bisikan rahasia Pedagang di pasar-pasar
Dan juga ramai solilokui dan metafora.

Tapi yang terpenting:
Namamu dibela dalam setiap cangkir yang kuseduh.
Dan dalam setiap perkataan aku mau secangkir kopi lagi pagi ini.

———————————————————————————————————————————————————————————–

Denpasar, 17 Agustus 2013. Untuk memenuhi tantangan Malam Puisi 1nsomania Kopi Kultur bertema KOPI.

*Lauriergracht No 37, Amsterdam adalah alamat fiktif makelar kopi kaya dalam buku Max Havelaar karangan Multatuli (Douwe dekker)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s