Kita adalah karakter dalam novel yang buruk

Kita seperti novel yang ditulis dengan sangat buruk. Logika yang rumpang. Kalimat-kalimat yang tidak pernah terselesaikan. Alur cerita yang terkadang tidak ada sangkut-paut dengan cerita-cerita kita sebelumnya. Hari ini kita bercerita tentang senja, esok hari kita bercerita bagaimana tingkah lakumu mengemut gula-gula.

Kita adalah karakter-karakter dalam novel yang ditulis dengan sangat buruk. Tidak ada intro ke pembaca seperti apa kita: seperti apa rupa kita? seperti apa reaksi muka jika seseorang mengecewakan kita? Merengut, mengernyitkan dahi atau memilih diam sampai kamu jengah sendiri dengan kecewa?

Atau karakter seperti apa jika kita bahagia? Menyimpanya baik-baik dan meledakan senyum dan tawamu sampai kamu bertemu dia? Atau yah, melompat-lompat seperti anak kecil jika bahagia dan selalu terdengar suara tawa kecilmu sambil bicara.

Kita adalah karakter novel yang disuruh menebak-nebak sendiri karakter kita dalam cerita. Jika ada pembaca yang betah membaca kita, bersyukurlah pembaca kita adalah penebak yang setia. Tentang bagaimana aku dan kamu.

Kita adalah karakter dalam novel yang ditulis dengan sangat buruk. Penulis novel ini tidak pernah dengan terang memberi tahu alur cerita kita. Tidak ada prolog cerita tentang kita, tidak ada petunjuk dalam plot bagaimana konflik dimulai, dan penulis selalu tidak pernah memberitahu epilog tentang akhir cerita kita. Semuanya berjalan, semuanya diceritakan, oleh kita: karakter-karakter dalam novel yang ditulis dengan sangat buruk.

Tapi siapa yang butuh logika yang runut dalam cerita kita? Kita tidak bisa meletakan perasaan dalam jajaran yang rapi seperti susunan kamar apartement. Kita tidak bisa melabeli dan memberi nomor urut ke perasaan kita. Bahagia diberi nomor satu, kecewa adalah perasaan nomor dua, dan seterusnya. Jika aku bahagia, aku kan bilang bahagia. Jika kamu kecewa, kamu akan memaki-makiku lalu tertawa. Atau boleh diletakan dalam urutan sebaliknya. Kamu tertawa dulu baru memaki-makiku. Aku tidak peduli. Selama kita adalah karakter dalam novel yang sama.

Tapi siapa yang butuh karakter yang runut dalam cerita kita? Mungkin kamu adalah karakter baik yang diletakan di tengah cerita, mungkin ia diletakan di awal cerita sebagai pelengkap saja, atau mungkin (dalam skenario paling ideal) kamu adalah karakter tepat yang diletakan sepanjang cerita. Aku tidak peduli. Selama kita adalah karakter dalam novel yang sama.

Tapi siapa yang butuh alur cerita yang sudah diterangkan dalam novel kita? Kita adalah karakter yang tidak butuh diterangkan penulis siapa teman kita, siapa guru kita, siapa kekasih kita, siapa orang tua kita. Kita adalah karakter yang memberi terang pada diri kita sendiri. Karakter yang bisa menentukan karakter lain dalam novel kita. Aku tidak peduli. Selama kita adalah karakter dalam novel yang sama.

Kita adalah karakter dalam novel dengan kalimat yang tidak selesai. Kita akan mencari kalimat yang dapat melengkapi cerita kita sendiri. Aku akan membantu melengkapi kalimatmu. Kamu akan membantu melengkapi kalimatku. Kita karakter yang membacakan cerita kita sendiri.

Kita adalah karakter yang melawan dalam novel yang buruk

Denpasar, 12 September 2013

— Ditulis bersahutan dengan seorang teman yang sedang berusaha menyelesaikan buku yang sedang disusun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s