Mencari Definisi Luxurious Travel

Pelancong perempuan ini berasal dari Swiss. Namanya Lea. Rambutnya pirang, dipotong pendek. Matanya biru. Walaupun sudah tinggal beberapa bulan di Australia tapi aksen bahasa inggrisnya kurang fasih. Setiap dia berbicara seperti mendengar orang kumur-kumur.

“Gaya bicara seperti ini sepertinya efek dulu saya sering menghisap ganja ”,  dia tertawa. Tertawanya khas. Kalau tertawa dia lalu cepat-cepat mengulum sendiri tertawanya menjadi senyum. Selalu seperti itu. Tidak pernah benar-benar tertawa lepas, persis seperti priyayi jawa.

Kalau sedang merengut dia akan akan menolehkan kepalanya, tidak menatap mata lawan bicaranya dan baru akan melontarkan keluhanya.

Kali ini dia mengeluh soal Ubud, “ini terlalu ramai. Aku tidak suka. Bawa saya ke tempat yang lebih sepi”.

Ubud bagi banyak orang sudah cukup sepi dan masih desa, tapi rupanya tidak cukup tenang baginya. “Aku berasal dari area pegunungan di Swiss. Ubud, di negaraku, jumlah penduduknya mungkin sudah termasuk kota”

Lea bukan tipikal pelancong yang berbiaya sangat terbatas. Prioritasnya lain, “saya tidak berkeberatan membayar ekstra untuk mencari tempat-tempat tenang”.  Tapi Lea tidak suka tinggal di resort dan hotel mahal yang biasanya menawarkan suasana sepi seperti itu. Dia menemuiku untuk mendapatkan tempat-tempat yang dia inginkan di Bali. Mahal, bagi ukuranku, tidak apa-apa baginya. Ketika aku menyebutkan sebuah tempat dimana sinyal telepon pun susah didapat, dia sontak kegirangan.

“Bawa saya kesana!!!”, kata Lea sambil tersenyum. Dikulum, seperti gaya khasnya.

***

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah tulisan oleh Pico Iyer yang dimuat di New York Times berjudul The Joy of Quite (http://nyti.ms/tZr7p2). Iyer dengan beberapa cerita dan argumen menggambarkan bahwa di dunia sekarang orang justru “membeli” cara agar tidak terkoneksi dengan internet, tidak terkoneksi dengan televisi, tidak terganggu oleh apapun.

Iyer mengatakan bahwa dalam setiap hari rata-rata orang US menghabiskan delapan setengah jam di depan layar komputer, remaja di US menerima 75 pesan pendek setiap hari dan semakin banyak orang habis waktunya dengan telepon mereka. Waktu mereka habis.

Dalam ekonomi, kondisi supply yang terbatas dan dhiadapkan pada demand sangat banyak akan terjadi kondisi kelangkaan (scarcity). Dalam kondisi scarcity itulah orang yang dapat menikmati resources yang tidak bisa dinikmati orang lain akan mendapat status kemewahan. Berlian dan emas contohnya. Tidak semua orang bisa menikmati berlian dan emas. Supply terbatas tapi semua orang menginginkan. Berlian dan emas menjadi barang dengan status mewah.

Iyer mengatakan bahwa sekarang waktu untuk diri sendiri tanpa terganggu adalah barang yang sangat mewah. Banyak eksekutif bersedia mengeluarkan uang agar mereka bisa mempunyai alasan kuat untuk tidak terkoneksi dengan internet dan pekerjaan. “Maaf saya berada di pulau yang tidak ada sinyal telepon”, kalimat seperti ini adalah alasan yang sangat kuat bagi para eksekutif untuk lepas sejenak dari bisnis

***

Bagi saya Lea dan perilakunya masuk ke kategori persis seperti yang dikatakan Iyer. Dia membeli alasan untuk tidak terhubung dengan internet dan sinyal telepon. Ini adalah kemewahan. Kemewahan untuk kembali dis-koneksi dengan teknologi dan terkoneksi dengan diri sendiri

Tapi tunggu, apakah perilaku traveling yang memberi definisi baru terhadap kemewahan ini juga berlaku bagi orang Indonesia? Apakah orang Indonesia juga menganggap bahwa traveling yang mewah adalah traveling yang bebas tanpa terganggu e-mail, tanpa terganggu social media, tanpa terganggu urusan bisnis?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membawa saya ke dua orang yang saya pikir bisa membantu saya menjawab pertanyaan ini. Mereka adalah Andrew Mulianto, pemilik suatu biro perjalanan di Jakarta dan satu orang lagi adalah Tuhu Nugraha, COO sebuah perusahaan dan pengamat perilaku konsumen indonesia lewat internet.

***

Pertanyaan pertama yang saya ajukan cukup sederhana: apakah traveling adalah sebuah kemewahan?

Keduanya menjawab dengan jawaban yang seragam: TIDAK.

Tuhu menjelaskan, “kemunculan penerbangan murah (Low Cost Carrier) seperti Air Asia membuat semua orang bisa traveling dengan harga terjangkau”. Traveling bukan lagi monopoli orang yang mempunyai uang banyak. Mengikuti definisi teori kemewahan dan kelangkaan diatas, traveling bukan lagi kemewahan. Dulu mungkin iya, sekarang tidak.

Lalu jika bukan lagi sebuah kemewahan , lantas apalagi yang menjadi pembeda golongan 10% ini dengan orang kebanyakan?

Andrew sebagai pelaku industri menjelaskan bahwa area destinasi antara kedua golongan ini boleh saja sama tapi perilaku kaum 10% ini akan sangat berbeda, “mereka akan mencari destinasi yang eksotik dan unik”.

“Tunggu, jadi walaupun destinasinya tidak jauh beda, misal Shanghai, tapi mereka tetap cari sesuatu yg berbeda? Experience?”, tanya saya.

“Iya, mereka akan berbeda”, jawab Andrew.

***

Baiklah, kedua pertanyaan diatas sudah terjawab. Traveling bukan lagi barang mewah. Hal yang menjadi pembeda adalah perilaku dan pemilihan pengalaman yang berbeda. Kepala saya kembali tergelitik dengan premis Iyer diatas: diskoneksi adalah sebuah kemewahan di masa sekarang.

Sebagai seorang yang sering berhubungan dengan the have ini dalam bepergian saya bertanya ke Andrew, apakah perilaku the have para Warga Negara Indonesia juga menganggap bahwa diskoneksi adalah kemewahan. Andrew tegas menolak, “Saya rasa internet hubungannya gak dengan kaya atau kurang (kaya). Tapi lebih ke usia dan tingkat pendidikan”.

Tuhu yang dihibungi terpisah juga memberikan jawaban yang kurang lebih menguatkan. Pola penggunaan internet dalam traveling untuk para golongan 10% ini tidak berbeda dengan kaum kebanyakan. “Mereka menggunakan Internet sama intensifnya ketika sedang bepergian”, jelasnya. Ini menunjukan bahwa diskoneksi ketika bepergian, sebagian orang mengatakan me time, belum dilihat sebagai kelangkaan.

“Mereka justru sama narsisnya. Bedanya mereka akan posting resort-resort mahal, tempat clubbing ternama, sedang yoga di resort ternama dan lainya”

***

Definisi luxurious travel tampaknya masih belum berubah bagi kebanyakan orang Indonesia. Bagi saya ini cukup mengejutkan karena konsep me time, waktu untuk saya sendiri  — benar-benar untuk diri sendiri — tanpa perlu peduli dengan orang lain saya pikir sudah mulai banyak dianut orang Indonesia. Buktinya spa dan bisnis lain yang menawarkan privasi semakin menjamur. Tapi entah kenapa sepertinya definisi luxury untuk sampai saat ini it is not quite there yet.

Mungkin perilaku affluent society  memang berbeda dengan kita yang masih negara berkembang. Atau mungkin nanti Y-Generation, sebutan media untuk generasi kita yang dibesarkan dengan internet, ketika generasi ini sudah mencapai tahap affluent definisinya akan ikut berubah. Entahlah

Tapi jika apa yang dikatakan Andrew itu benar soal “lebih ke usia dan tingkat pendidikan”. Maka kemungkinan kita harus menunggu Y-Generation menjadi lebih mapan dan berduit. Dan jika saat itu terjadi, itu akan mengubah wajah pariwisata kita.

Jika saat itu terjadi, mungkin resort mewah terpencil seperti Nihiwatu di Sumba atau resort kecil lain yang tersebar di pulau-pulau Indonesia akan lebih banyak konsumen Indonesia sendiri daripada WNA.  Jangan keburu mengiyakan, ini cuma spekulasi

4 thoughts on “Mencari Definisi Luxurious Travel

  1. Keren tulisannya.

    Tiap orang memang punya perjalanannya masing-masing. Ada yang senang dengan traveling mewah, ada juga yang senang dengan traveling “keras.” Tapi skrg yang gue liat, traveler mewah justru lebih rendah hati daripada traveler…., well, backpacker.

    Traveler mewah, kita sebut aja turis, jarang yang suka nyinyir apalagi nyinyirin backpacker. Backpacker? Mereka merasa lebih hebat karena jalan yang mereka tempuh lebih keras, kemudian menyombongkan diri dengan berkata, “Perjalanan yang bermakna adalah perjalanan yang menempuh jalan berbatu.” Huh. Kalo tentara mengaku sebagai traveler juga backpacker mah lewat.

    Kok komen gue jadi panjang. Ampun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s