Dari Bali ke Jakarta: Za Za Zu, Deja vu dan Jamais Vu

Saya sedang belajar Bahasa Perancis. Setidaknya saya berusaha memulai belajar bahasa itu. Entah kenapa bahasa yang tadinya tidak saya suka akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk dilafalkan mulut ini. Kualat mungkin, sesuatu yang kamu benci akhirnya menemukan jalannya sendiri di hidupmu.

Ketika belajar bahasa ini secara tidak sengaja saya menemukan satu kata yang menarik. Kata ini adalah Za Za Zu.

Za Za Zu diambil dari sebuah kata Perancis “Je Ne Sais Quoi”, yang artinya saya tidak tahu. Ya, terjemahannya adalah “saya tidak tahu”. Ini digunakan misal ketika seseorang ditanya, “apa yang kamu suka dari dia”. “Je Ne Sais Quoi”, saya tidak tahu. Dia punya sesuatu yang membuat saya tertarik tapi saya tidak tahu itu apa. Mojo? Chemistry? Kharisma? Sungguh, saya tidak tahu. Jangan ajukan saya pertanyaan sesulit itu.

Pertanyaan ini juga terlontar ketika seorang teman yang juga barusan pindah dari Bali bertanya hal yang serupa. Hampir retoris dan klise dia bertanya, “kenapa kita kangen Bali?”. Pertanyaan yang sangat retoris, mengingat dia juga pernah tinggal disana. Ingin rasanya saya bilang, “Lah terus lu ngapain juga kangen Bali?”

Jujur sebenarnya dulu saya mengalami momen Za Za Zu terhadap Bali jauh sebelum pindah ke Bali. Tapi karena malas menjelaskan soal konsep Za Za Zu dan makan bebek di piring sepertinya lebih penting, pertanyaan teman saya ini ga saya jawab. Bangsat, kenapa ga ngobrol topik lain selain Bali ketika makan di Jakarta sih? Macet kek, cari duit apaan kek, liburan besok kita ngapain kek. Ya, topik tipikal Jakartans seumuran kami. Maksud saya karena kami sudah di Jakarta, ngobrolin kehidupan kami di Bali rasanya kayak ngobrolin surga. Jauh vroh.

Tapi jika ditanya lagi kenapa saya suka Bali. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya suka Bali. Kalau dibilang alamnya, banyak bagian lain Indonesia juga punya alam yang tidak kalah bagus. Kalau budayanya, banyak budaya di bagian lain Indonesia juga tak kalah menawan. Ah mungkin teman-temannya? Tapi teman-teman yang sama pindah juga ke Jakarta. Lalu apa yang membuat Bali menarik?

Za Za Zu, Je ne sais quoi. Saya tidak tahu. Jangan ajukan saya pertanyaan sesulit itu.

Déjà vu

Déjà vu, (/ˌdeɪʒɑː ˈvuː/) from French, literally “already seen”, is the phenomenon of having the strong sensation that an event or experience currently being experienced has been experienced in the past, whether it has actually happened or not

Tinggal beberapa tahun di Jakarta, hal semacam déjà vu ini sungguh biasa. Bangun 5.30, mandi, makan, lalu berangkat dengan target sampai kantor jam 8.00. Pulang kantor ketemuan sama pacar, kalau lagi jomblo ya nyari coffee shop sama temen. Belajar hidup dan bekerja di Jakarta itu persis memenuhi takdir Déjà vu yang sempurna. Looping yang terus-menerus.

Tapi hidup tak secengeng itu. Kalau tak suka ya ubah! Kalau tidak berkenan ya lawan! Karena itu ketika pindah ke Bali, déjà vu sistematik benar-benar sangat saya hindari. Saya tidak ingin lagi hidup dengan “sepertinya pernah”. Hidup seperti itu cukup di Jakarta saja! Di Bali jangan. Alhasil saya selalu mencari yang baru. Dinamis. Bergerak. Bertemu orang baru, berpisah lagi. Berdansa dengan orang baru, berpisah lagi. Bernyanyi lagi di little bird sanur, lalu pisah lagi. Setiap hari adalah petualangan baru.

Konsekuensi pengingkaran hebat terhadap  déjà vu sistematik ini adalah saya menghindari sekali tempat-tempat umum para turis. Menghindari total nongkrong siang-siang di Pantai Kuta, dugem di Sky Garden, atau makan di makan di tempat super femes kayak Potato Head. Hal-hal seperti itu saya sebut dengan hal-hal yang klise. Saya hindari semua. Apa bedanya saya pindah dari Jakarta ke Bali kalau cuma hidup dengan cara klise yang sama?

Kecuali kalau terpaksa. Ada keluarga atau teman yang datang ya mau bagaimana lagi?

Lalu hari terakhir itu datang juga.

Jamais Vu

Jamais vu (/ˈʒɑːmeɪ ˈvuː/; from French, meaning “never seen”) is the phenomenon of experiencing a situation that one recognizes in some fashion, but that nonetheless seems very unfamiliar.

Malam terakhir di Bali akhirnya saya putuskan untuk melakukan hal yang biasa-biasa saja. Hal yang klise. Lugu, seorang teman datang membawa kopi dan menyeduhkan kopi terakhir. Vifick, teman fotografer juga datang. Ya sederhana. Di kamar yang sudah tidak ada perabotan itu kami akhirnya ngopi bareng (afu, kangen ngopi sama kalian cuk!)

Lalu jam makan malam datang. Last supper, mungkin yesus waktu perjamuan makan terakhir tidak tahu bahwa dia akan disalib sebentar lagi. Tapi di last supper saya, saya tahu saya setipis rambut hampir disalib Nath karena telat datang satu jam!

“Mentang-mentang ini malam terakhir, kamu boleh datang telat sejam gitu”, kalimat sambutan yang manis khas Nath. Untung ada Prissa, ya jadi tameng lah cecunguk satu itu.

Lalu pertanyaan Prissa datang, “jadi kamu mau ngapain malam terakhir? Just say it

Setelah berfikir agak panjang baru saya jawab, “saya mau melakukan hal-hal paling klise yang sudah saya hindari selama ini di Bali”. Ke Kuta!

Malam terakhir di Bali justru saya habiskan dengan cara yang sangat sederhana, sangat rutin, sangat sehari-hari, sebuah déjà vu. Dari ketika dua orang kawan, Lugu dan Vifick, datang untuk membuat secangkir kopi. Sampai bagaimana Prissa dan Nathalie mentoleransi keinginan cetek pergi ke Kuta. Tapi lucunya déjà vu kali ini tidak terasa membosankan. Terasa baru.

***

Jamais Vu”, kata Lea sambil nyolong singkong sambel roa di piring saya. Malam ini Lea mampir ke Jakarta, saya ajak makan di Sabang sebelum dia pulang ke Eropa selamanya.

Excuse me?”, kugeser sedikit piringku ke arahnya. Lahap betul gadis Swiss ini makan singkong.

“Ya, Jamais Vu”, Jawabnya sambil masih nyolong singkong sambel roa di piringku. “Ingat ketika aku di Kamboja dan kamu bilang: ga usah norak lihat Kamboja, di mana aja toh sama saja”.

“Iya, aku ingat tapi apa hubungannya dengan ceritaku?”

Jamais Vu, kebalikan dari déjà vu. Kamu berada dalam situasi yang sama tapi terasa tidak sama. Terasa tidak familiar. Kamu menghabiskan waktu terakhirmu di Bali dengan cara yang klise. Tapi ketika melakukan itu justru semuanya terasa baru. Itu tergantung otakmu berfikir. Tergantung atittude-mu. Baru atau tidak. Menarik atau tidak. Hidup mu, itu atittude-mu.

“Maksud lu, atittude gua selama ini salah?”

Lea tidak menjawab segera. Tersenyum. Kali ini sambil nyolong Kopi Talua-ku, juga sambil menyeret singkong sambel roa lebih dekat ke arahnya dia menjawab:

“Kamu sekarang di Jakarta. Jamais Vu?”

***

So Jakarta, Jamais Vu?

*ditulis sambil menikmati kopi di Jakarta Coffee House

6 thoughts on “Dari Bali ke Jakarta: Za Za Zu, Deja vu dan Jamais Vu

    • Gini. Kapan-kapan kalian ramean ke Jakarta. Kayak pas nonton Metallica itu. Terus kita ngopi. Kalo ada anjing, pipisin dulu anjingnya sebelum dipipisin.

      Kalo butuh alasan kuat sekuat legenda Metallica, jangan khawatir. Sebentar lagi 2014. Rhoma Irama bakal sering manggung. Kurang legenda apa beliau coba?

      Terus point jawabanku apa? Ga ada. Yang penting kalian dari Bali ramean maen ke Jakarta sini.

  1. Weekend kemrain aku sweet escape ke Bali. Gak ke mana2, hanya kumpul with my circle of veru close friends which I consider as family. Who needs beaches when you have bitches all around?
    It’s the people that we miss..
    Dan melalui rute2 yang biasa kita kita lewati tiap hari bikin deja vu / jamais vu juga, lho. Sweet memories, very sweet..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s