Lima Hari di Pasar Malam.

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku melihat pasar malam dari kejauhan. Dua tahun lalu? Atau justru ketika remaja dulu? Masih pentingkah mengingat kapan terakhir melihat pasar malam? Dan pertanyaan paling penting, masih pentingkah mengingat bagaimana kau menebak isi kepala seseorang?

Hari Pertama

“Datang ke tanah lapang. Ada pasar malam disana”, kamu kirim pesan.

“Tanah lapang mana. Dekat tempatmu?”. Aku tunggu balasanmu agak lama. Tidak kau balas. Aku bingung, tanah lapang ada banyak.

Sepanjang aku ingat –karena memang tak menarik diingat–  tanah kosong di sebelah barat penjara sana tidak pernah menarik. Di Bali, tanah kosong seperti itu banyak sekali. Generik. Biasanya tanah kosong yang tadinya berupa sawah, diurug pemiliknya dan akan dijual kembali nanti. Ini Bali, walaupun dekat penjara, tanah kosong akan tetap dihargai mahal dan tetap dicari.

Di Bali, sapi-sapi berwarna coklat dan babi-babi, ya benar babi, kadang akan mampir di tanah kosong. Kalau kau lewat tanah semacam itu siang hari, paling kau cuma melihat sapi dan babi makan rumput atau tidur berteduh dari terik matahari di bawah pohon yang cuma tumbuh satu atau dua. Maklum, tanah hasil urugan biasanya gersang dan tandus.

Kalau malam, tanah lapang sama saja tidak menarik. Paling cuma jadi rumah anjing buduk yang banyak di seluruh Bali. Ya sesekali kalau di dekat tanah lapang ada café dangdut, seperti dekat kosku, banci-banci mampir dan mangkal cari pelanggan disana. Apa yang menarik dari tanah lapang seperti itu?

“Tanah lapang mana yang ada pasar malam?”, pesanku belum juga kau balas. Aku juga malas mencari. Malam itu, aku pilih tidur di kosan.

Hari Kedua

Layar handphoneku berkedip: “New Message from C. Tia Vitro”

“Datang ke tanah lapang. Ada pasar malam disana”, kamu kirim pesan yang sama.

“Tanah lapang mana? Kemarin aku tanya kamu diam saja”

“Oh, aku tidak jawab?”

“Iya, kamu tidak jawab. Mana bisa tahu tanah lapang mana yang ada pasar malam”

Kali ini kamu beri alamat. Tanah lapang yang cukup jauh, malas sebenarnya tapi karena aku penasaran aku berangkat.

Sampai di lapangan, tidak ada pasar malam. Cuma ada kamu di tengah lapangan.

Kamu melambaikan tangan, “Sini! Ke tengah lapangan sini!”

Aku bingung, “Mana pasar malam?”. Sambil berjalan menuju tengah lapangan aku celangak-celinguk mencari tanda-tanda keramaian pasar malam.

“Sepi. Cuma ada tanah lapang”, protesku.

“Tunggu saja”, Kamu tersenyum. “Siap?”

“Siap apa? Pasar malam? Tentu siap. Aku datang karena itu”

Kamu masih tersenyum. Lalu kedua tanganmu kau letakan di kepalamu. Aku tidak tahu kenapa kamu lakukan itu. “Kamu siap?”, kamu mengulang pertanyaan sambil tersenyum. Aku masih bingung apa yang akan kamu lakukan dengan tangan di kepalamu.

Lalu tiba-tiba kau buka tempurung kepalamu. Kepalamu terbelah menjadi dua! Cahaya cerlang melesat keluar dari dalam. Terang seketika membuat mataku jadi buta sementara. Refleks tanganku kuangkat menutup mata. Mencoba mengurangi cerlang yang membutakan. Setelah terbiasa, aku buka mataku.

Berlompatan dari kepalamu satu per satu: carrousel, pohon-pohon, tenda sirkus, bangku taman, badut-badut, balon warna-warni, gulali, ferris wheelcotton candy, popcorn, bebek karet, bahkan pedagang bolang-baling cakwe dan roti goreng. Satu persatu berloncatan dari dalam tempurung kepalamu yang terbelah dua.

Setelah semuanya selesai berloncatan dari isi kepalamu, aku lihat satu pasar malam tiba-tiba beridiri penuh di lapangan. Carrousel ada di tengah lurus dari pintu masuk, bangku taman ada di sebelah kanan, di pojok kiri ada ferris wheel, pedagang gulali dan permen kapas bertebaran di seluruh penjuru taman. Dan lihat! Ada anak kecil yang tertawa bahagia dibelikan satu set balon warna-warni.

Ketika sibuk memperhatikan detil kecil pasar malam itu aku tidak sadar bahwa kamu sudah tidak ada di tempat semula aku melihatmu.

Kemana dia?

Menghilang melebur bersama pasar malam yang barusan keluar dari kepalanya?

Atau bersembunyi di suatu tempat, melihatku?

Aku melihat dengan jelas sebuah gerbang melengkung dengan tulisan “Pintu Masuk” tertulis besar-besar di atasnya. Aku berjalan mendekat ke arah pintu masuk. Di sana semuanya lengkap, ada loket, ada pengeras suara, ada pula petugas yang memakai seragam, tersenyum. Selalu tersenyum. Mungkin memang sudah instruksinya untuk selalu tersenyum.

“Malam”, sapaku.

“Bisa saya bantu?”

“Iya, saya ingin masuk ke pasar malam ini boleh?”

“Silahkan, punya tiket untuk masuk?”

“Tidak, saya tidak punya tiket untuk masuk. Aku kira ini bukan pasar malam sungguhan”

“Dengan segala keyakinan, kami bisa katakan kami pasar malam sungguhan”

“Tapi aku lihat sendiri, kalian semua berloncatan dari isi kepala Tia. Yang tadi berada disana”, aku tunjuk satu titik di lapangan di mana kamu berdiri sebelumnya. “Tapi dia tiba-tiba hilang entah kemana”.

Petugas tiket masuk tersenyum, “Benar kami berloncatan dari isi kepala Nona Tia. Tapi bukan berarti kami tidak nyata. Kami imajinasi tapi kami ada. Buktinya saya bicara dengan anda sekarang”

“Baik, tapi boleh saya masuk?”

“Punya tiket masuk?”

“Bisa saya beli saja tiket masuk?”

“Anda lihat ada harga tiket di loket ini?”, Kata petugas itu menunjuk loket tiket masuk.

Tidak ada harga tiket terpampang disana.”Tidak”, jawabku.

“Berarti kami tidak jual tiket”

“Lalu bagaimana saya bisa masuk?”

“Anda harus punya tiket”, dia mengulang jawab yang sama. Tegas

“Baik kalau begitu bisa tolong beritahu saya dimana Nona anda? Saya mau tanya apa dia punya tiket untuk saya”

“Maaf, saya tidak tahu”

“Tapi bukan kah anda isi kepala Nona?”

“Iya , kami isi kepala dia tapi kami tidak tahu dimana dia. Tetapi dia selalu tahu dimana kami”

Aku mengambil nafas panjang. Sepertinya masalah ini tidak akan terpecahkan begitu saja.

“Baik, apa pasar malam ini besok masih ada disini?”

“Kami tidak tahu. Semua tergantung Nona. Kami bisa tutup, bisa pindah, bisa buka, kami bisa tambah pertunjukan, kadang hari ini ferris wheel hilang, kadang besok muncul lagi. Hari ini tenda sirkus badut penuh dengan pengunjung, keesokan hari sudah diganti dengan rumah hantu”

Sepertinya pasar malam ini memang sangat tergantung dari isi kepala Nona penciptanya. Isi pasar malam sekarang bisa sangat berbeda dengan isi kemarin. “Baik, besok saya kembali kesini. Siapa tahu Nona kalian menitipkan tiket untukku. Selamat malam”

“Malam”

Hari Ketiga

Besoknya aku datang lagi ke lapangan. Pasar malam masih ada. Telpon genggam mu belum juga dapat dihubungi.

Aku hampiri penjaga tiket.

“Malam, ah anda datang lagi”

“Nona kalian menitipkan tiket untuk ku?”

“Oh, anda masih belum punya tiket”

“Belum”

“Sayang, Nona kami tidak menitipkan apa-apa ke kami”

“Katakan padaku, apa tugasmu sebenarnya. Kamu penjaga pintu masuk bukan?”

“Benar”

“Apa tugasmu?”

“Sudah jelas tuan, tugasku mengizinkan orang masuk atau tidak.”

“Jadi kamu melihat macam-macam orang yang masuk ke pasar malam ini?”

“Benar”

“Ceritakan, orang-orang seperti apa yang datang masuk ke pasar malam?”. Jika aku tidak bisa masuk ke pasar malam ini, paling tidak aku tahu orang seperti apa yang berada di dalamnya.

“Macam-macam tuan. Ada laki-laki muda seperti tuan. Ada anak-anak bersliweran. Ada sesekali orang-orang suci berdatangan. Teman-teman nona juga sering datang mampir bermain”

“Ada yang paling menarik dari orang-orang yang datang kesini?”

Penjaga pintu masuk itu terlihat berpikir, “Sepertinya biasa saja. Memang ada satu dua wajah terkenal mampir disini”

“Selebritis maksudmu?”

“Iya”

“Ah, interesting. Ada yang menarik lagi?”

“Ah, ada satu-dua orang yang masuk dan sepertinya tidak pernah keluar”

“Jadi mereka terperangkap selamanya disana?”

“Sepertinya begitu. Tapi sepertinya mereka sukarela berada disana”

Bahaya juga sepertinya pasar malam ini. Sepertinya jika sudah tersesat, kamu akan susah keluar dari sana. Ada untungnya aku belum punya tiket masuk. Aku jadi punya informasi seperti ini. Kalau aku sudah punya tiket masuk, pasti aku sudah berada di dalam tanpa tahu resiko seperti ini.

 

Hari Keempat

Aku datang lagi malam ini. Pasar malam mu masih disana, di lapangan yang sama, suara musik bernada ceria sama yang keluar dari speaker sember. Tapi kali ini aku tidak ke gerbang masuk. Di depan pasar malam ada pedagang-pedagang asongan yang mencoba memanfaatkan keramaian untuk ikut kecipratan rejeki. Aku putuskan untuk beli camilan dan kopi. Malam ini aku akan melihat pasar malam dari jauh saja.

Sebenarnya, aku tidak tahu kapan terakhir kali aku melihat pasar malam. Dua tahun lalu? Waktu kuliah dulu? Masih pentingkah mengingat kapan terakhir melihat pasar malam? Dan pertanyaan paling penting, masih pentingkah mengingat bagaimana kau menebak isi kepala seseorang?

Ada bangku taman di luar pasar malam. Pedagang-pedagang berkerumunan di dekat pintu masuk. Bangku ini terletak agak jauh dari sana. Pas, tidak terlalu ramai. Aku duduk di bangkut itu.

Kopi aku letakkan di sebelah kanan dekat dengan paha. Kaki kiriku kusilangkan ke kaki kanan. Menikmati sesuatu memang lebih enak ditemani secangkir kopi. Mataku kupicingkan, cahaya dari pasar malam dari luar sini masih terlalu terang rupanya. Lihat, sekarang aku di sini berusaha melihat seperti apa pasar malam kalau di lihat dari kejauhan. Sebuah perihal kadang terlihat lebih jelas jika kita memberi jarak dan ruang pandang yang cukup.

Dari sini, bangku sini, aku bisa melihat bentuk pasar malam secara keseluruhan. Aku sebenarnya masih terheran-heran, bagaimana mungkin dari otak kepalamu bisa keluar pasar malam seramai ini? Kalau benar ini adalah isi kepalamu, maka banyak hal yang tidak pernah kamu bicarakan. Tapi setiap orang memang tidak akan pernah jujur terhadap pasar malam di kepalanya.

Setiap orang memang punya imajinasi. Satu orang mungkin pandai menyembunyikan, satu lain mungkin pandai mengekspresikan. Tapi dari segala imajinasi yang berkeliaran di otakmu: Kenapa pasar malam? Isi otak mu sungguh gaduh, sesak dengan orang. Aku justru tertarik, dari segala kegaduhan itu, karakter mana di pasar malam mu yang akan kau dengar?

Setiap pasar malam –bukan hanya pasar malam di otak mu– selalu ditingkahi suara musik sember yang dibunyikan keras-keras. Belum lagi teriakan-teriakan pedagang, suara tertawa anak kecil, letusan kembang api, suara berkeriut atraksi yang kurang oli, segala macam. Mungkin saja, ini dugaanku, itu sebabnya kamu selalu butuh sepi — seperti Bali – untuk mendengar mana suara yang akan benar-benar kamu pilih untuk dengar.

Lihat aku, duduk di luar pasar malam, sambil minum kopi, dan menebak-nebak soal isi pasar malam. Mungkin akan terdengar judgmental. Tapi Hey! Aku tidak punya tiket masuk.

Hari Kelima

“Selamat malam tuan, sudah mau masuk hari ini?”, penjaga pintu masuk bertanya ketika melihat aku datang menghampiri pasar malam.

“Oh Nona anda belum juga menitipkan tiket ke kalian?”

“Belum tuan”

“Tenang saja. Aku menyerah untuk masuk ke pasar malam ini lagi. Aku cuma mau titip pesan ke Nona kalian”

“Apa tuan?”

“Tolong sampaikan, kalau undang saya ke pasar malam. Paling tidak beri tahu saya dimana saya bisa dapat tiketnya”

Sejak saat itu aku tidak pernah berkunjung ke pasar malam. Entah karena malas atau takut tidak bisa keluar lagi.

 

Kintamani, Nyepi 2014.

– Lain kali kalo pengen ngobrol, remember not everyone is a mind reader

.

PS: C. Tia Vitro adalah nama rekaan kepanjangan dari Cura Tia Vitro.

4 thoughts on “Lima Hari di Pasar Malam.

  1. Suka banget ide pasar malamnya. I love it. Kaya di buku Night Circus (ngebayanginnya). Walau agak horror ide tentang kepala terbelah dua nya, but I love the idea of the story and how you pack it up. Simply put a smile on my face every time I read it–the thing about night carnival is brilliant. Just fyi. I think you are a great author. 🙂

    • Thanks for the compliment. Glad that you put your smile every time you read this🙂.

      Ini kepending udah dari kapan hari coba. Talk to you later.

  2. Ikutan menyimak🙂 kalo pasar malam sunguhan di jakarta lagi giat2 banyak, hampir tiap kampung seminggu sekali selalu ada pasar malam. Orang2 bilang “Pasar Malam Padang” karen ayg jualan pasti orang keturunan padang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s