Sekilas Tentang Industri Wine di Indonesia

Dulu ketika bekerja sebagai business finance analyst di sebuah perusahaan wine, saya sering mendapat pertanyaan dari kolega di industri lain mengenai industri alkohol terutama soal wine. Di telinga mereka industri ini terdengar eksotik dan sebuah teritori yang tidak familiar. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran keadaan industri wine di Indonesia dengan timeline yang runtut.

Sejarah Industri

Tidak ada dokumen tertulis yang pasti menyebutkan bagaimana industri wine bermula di Indonesia. Tapi beberapa pelaku industri menyebutkan bahwa katalisator pertama adalah wisatawan dan ekspatriat yang tinggal di Indonesia. Bali, sebagai tujuan wisata utama turis mancanegara juga turut menyumbang pola konsumsi wine di Indonesia hingga kini.

Data BPS menyebutkan bahwa turis Australia secara konsisten adalah negara yang menyumbang jumlah kunjungan wisatawan terbesar setelah Singapura dan Malaysia. Di tahun 2012 saja, Singapura, Malaysia dan Australia menyumbangkan 19%, 17% dan 12% dari total kunjungan wisatawan. Dari ketiga negara tersebut, hanya Australia lah yang mempunyai budaya meminum wine yang kuat. Maka tak heran, selera awal wine yang terbentuk di Indonesia adalah selera Australia yang notabene di dunia wine dikenal dalam mazhab new world. Trend ini masih berlanjut sampai sekarang, dimana penjualan wine berfluktuasi mengikuti influx wisatawan Australia dan sebagian besar diantara mereka menghabiskan liburan di Pulau Bali.

Tidak banyak orang tahu bahwa sampai tahun 2007, urusan mengimport wine diamanatkan oleh peraturan hanya boleh di impor oleh BUMN bernama PT Sarinah. Peraturan monopoli tersebut di lapangan membawa implikasi terhadap maraknya wine selundupan. Beberapa manajer penjualan yang saya temui mengatakan bahwa angka selundupan yang beredar di pasar bervariasi sekira 30% dari total wine yang beredar di lapangan. Bayangkan berapa milyar potensi pajak pemerintah yang hilang. Mudah ditebak, wine selundupan ini membawa implikasi baik dan buruk bagi industri secara keseluruhan.

Wine adalah produk yang sangat sensitif terhadap suhu dan mudah spoiled jika tidak disimpan dalam temperatur yang ideal. Wine selundupan adalah wine yang tidak tertangani dengan baik, karena bagi para penyelundup yang penting barang mereka masuk ke Indonesia dan kualitas penanganan menjadi tidak diperhatikan. Wine selundupan yang spoiled ini berakibat buruknya reputasi wine Indonesia di mata wisatawan internasional. Karena ketika mereka mencicipi merek wine yang sama di negara asal mereka, yang mereka cicipi di Indonesia adalah wine yang sudah rusak dan rasanya buruk.

Wine selundupan yang cenderung spoiled ini juga membentuk palet rasa bagi orang-orang yang tidak tahu. Banyak F&B manager yang minim pendidikan wine mengira bahwa wine yang spoiled itu rasa wine yang normal. Karena dulu ketika mereka masih muda dan meniti karir di lapangan, wine spoiled seperti itulah yang mereka rasakan. Dan sebagian masyarakat pun mengira bahwa wine yang spoiled pun sebenarnya rasa yang normal. Yang terjadi adalah orang tidak tahu kelezatan meminum wine dan menganggap wine adalah minuman tidak enak.

Di setiap kabar buruk juga terselip kabar baik bagi yang pandai menciumnya. Wine lokal mulai bermunculan, pionir wine lokal adalah Hatten Wine yang didirikan tahun 1992 yang efektif di pasaran tahun 1994. Hatten juga makin besar ketika terjadi kelangkaan wine import beberapa kali dan menjadi satu-satunya wine yang tersedia di pasaran. Kini sudah bermunculan beberapa merek lokal lain seperti Cape Discovery, Plaga and Sababay.  Tiga merek ini baru bermunculan empat tahun belakangan ini: Sababay tahun 2010, Cape Discovery tahun 2012 dan Plaga tahun 2013.

Berkembangnya industri wine lokal juga mungkin dapat dikaitkan dengan pelonggaran aturan industri alkohol. Ini tercermin ketika tahun 2010, lisensi impor ini mulai dilonggarkan dan pemerintah membolehkan tujuh perusahaan untuk mulai mengimpor wine ke dalam negeri dan tidak ada pemain monopoli lagi. Dari situ para pelaku industri mulai berinovasi dalam portfolio produk mereka  dan selera pasar mulai berubah.

Wine

Market size dan tantangan ke depan.

Menentukan seberapa besar market wine di Indonesia lebih mengarah ke pekerjaan educated guess dan tidak bisa menyebutkan angka pasti. Ini dikarenakan produsen, importer dan distributor wine di Indonesia hampir semuanya adalah perusahaan tertutup. Ditambah dengan ketiadaan asosiasi industri tambah menyulitkan mengetahui seberapa besar market wine saat ini. Melalu data yang saya punya paling tidak market size wine di tahun 2012 masih sangat kecil yaitu sekitar Rp 560 Milyar per tahun dengan konsentrasi tertinggi hanya di Jakarta dan Bali saja. Market size ini sudah termasuk perkiraan wine selundupan. Bandingkan dengan ukuran bisnis ready-to-drink lain semacam Air Minum Dalam Kemasan merek Aqua yang mencapai Rp. 2 triliun per tahun.

Seiring dengan berkembangnya masyarakat kelas menengah Indonesia, permintaan domestik akan menguat. Para pelaku industri dan terutama pemerintah harus dapat mengantisipasi fenomena ini. Selain terus membenahi kebocoran di proses import wine, para produsen dan distributor sebaiknya berbenah dan mulai bekerjasama dalam asosiasi. Asosiasi ini menjadi penting untuk seting agenda industri ke depan seperti standardisasi dan bersama-sama memperkuat image industri.

Jika kedua spektrum, pemerintah dan industri, ini berbebnah diri. Siapa tahu akan muncul wine-wine baru dari varian buah lokal seperti salak yang disukai oleh lidah orang Indonesia dan sukses secara bisnis. Palet rasa lidah lokal memang sedikit berbeda, kita lebih suka yang agak manis. Bukan rahasia umum lagi lidah orang Indonesia yang baru pertama kali mencoba wine sering mengucap: kok masam?

 

Andi Fachri.

Business Finance Analyst, pernah bekerja di salah satu produsen dan distributor wine.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s