Jakarta: Pertunjukan Megah di Muka Bumi.

Pertunjukan terbaik di muka bumi adalah evolusi. Amoeba berkembang menjadi organisma multi sel. Larva bening di dalam sungai berubah menjadi kecebong. Kecebong menumbuhkan kaki berjalan dan perlahan menjadi katak. Andai saja waktu sebagai being dapat direkam dengan timelapse lalu diputar ulang di gedung bioskop, kita akan dapat melihat bahwa proses evolusi -dari organisme sederhana dan menjadi lebih kompleks- adalah pertunjukan yang paling megah di muka bumi.

Lalu di puncak rantai evolusi dan rantai makanan, terdapat manusia. Makhluk yang berkembang dari sejenis monyet, lalu berjalan tegak, menemukan api, bercocok tanam, menggembalakan spesies lain agar dapat dimakan, dan ujungnya manusia dapat menciptakan alat kontrol evolusi agar bumi lebih nyaman bagi spesiesnya sendiri: gedung dengan isolator agar tetap hangat di musim dingin, air conditioner agar tetap sejuk di tengah gelombang panas, kulkas untuk menyimpan kebutuhan survival berupa makanan, sampai penemuan kondom agar dapat mengontrol populasinya sendiri tapi tetap dapat menikmati hasrat dasar seksual.

Setelah mencapai puncak piramida makanan, lucunya manusia-manusia yang paling terkenal dan dipuja sebagai paling berpengaruh diantara spesiesnya justru menunjukan sebaliknya: Buddha, Yesus, Muhammad dan… Arya Wiguna. Manusia-manusia tercerahkan semacam ini, puncak dari rantai evolusi, justru mengajarkan sesuatu yang sederhana: kasih sayang.

Dalam wajah pekerja kantoran yang rela lembur dan bergantung kelelahan di tiang KRL Bogor-Jakarta demi anak di rahim istri, wajah tukang ojek yang mengumpulkan uang agar istri di rumah bisa menemani orang tua yang sudah tua, atau supir taksi yang saya kendarai tadi siang yang merantau agar anaknya di desa tidak putus sekolah.

Alasan-alasan sederhana seperti itulah yang menyebabkan Jakarta menjadi tempat pertunjukan paling dahsyat dalam rantai evolusi, dengan catatan: bagi mereka yang menemukan alasan yang tepat.

Lalu jika penyintas pendatang Jakarta dicemooh oleh kaum “liyan”, orang-orang yang tinggal di Jakarta akan cuma melengos dan selalu ingat kenapa mereka memilih bertahan di tempat ini. Entah bertahan karena punya pilihan atau bertahan karena tidak punya pilihan.

Bagi mereka yang mampu keluar dari Jakarta dan tanpa mencemooh, meminjam istilah Richard Dawson, merekalah hasil pertunjukan terbesar di muka bumi. Salut.

Saya belum bisa keluar dari Jakarta. Visa untuk bekerja di benua sebelah, entah kenapa, belum juga bisa saya gunakan. Saya sedang menikmati pertunjukan ini, dengan sesekali mencuri waktu untuk kabur sekedar menikmati air mancur favorit, lalu sesekali tertawa melihat tingkah polah bocah-bocah yang berlarian di air mancur dengan latar belakang orang-orang palsu yang sedang makan di Union.

Jakarta, Juli 2015. Sic Transit Gloria Mundi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s